— Harga emas masih memiliki ruang untuk kembali mencetak rekor tertinggi meski reli logam mulia tersebut mengalami jeda dalam beberapa bulan terakhir. Goldman Sachs menilai fase konsolidasi yang terjadi bukan pertanda berakhirnya tren bullish, melainkan jeda sebelum harga emas kembali melanjutkan penguatan.

Kepala Global Perdagangan Logam Goldman Sachs, Anthony Kim, mengatakan prospek emas dalam jangka menengah masih cukup positif. Menurutnya, sejumlah faktor fundamental tetap memberikan dukungan terhadap permintaan emas, terutama pembelian bank sentral dan meningkatnya kebutuhan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian ekonomi serta geopolitik global.

Goldman Sachs Nilai Tren Kenaikan Emas Belum Berakhir

Anthony Kim menilai kenaikan harga emas yang terhenti selama lebih dari tujuh bulan dipengaruhi oleh sejumlah ketidakpastian. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah pencalonan dan pengesahan Kein Warsh sebagai Ketua The Federal Reserve (The Fed) yang baru.

Investor masih berusaha memahami arah kebijakan moneter yang akan ditempuh Warsh, khususnya dalam kaitannya dengan pemerintahan Donald Trump dan berbagai pandangan mengenai independensi serta kebijakan The Fed.

Faktor geopolitik juga menjadi perhatian. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah memberikan dampak terhadap pasar energi sekaligus memengaruhi aliran dana yang sebelumnya dapat masuk ke pasar emas.

Meski sejumlah arus investasi mengalami penurunan, terdapat satu sumber permintaan yang tetap bertahan, yakni pembelian emas oleh bank sentral.

Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang

Data terbaru Goldman Sachs Research menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral meningkat menjadi sekitar 100 ton per bulan pada Juni 2026. Angka tersebut merupakan data yang telah disesuaikan secara musiman berdasarkan periode tiga bulan.

Jumlah tersebut meningkat dari sekitar 66 ton pada bulan sebelumnya. Bank sentral China tercatat sebagai pembeli terbesar yang terkonfirmasi selama Juni 2026.

Konsistensi pembelian dari institusi negara menjadi salah satu fondasi penting bagi prospek emas. Goldman Sachs Research memperkirakan bank sentral secara rata-rata membeli sekitar 50 ton emas setiap bulan sepanjang 2026.

Proyeksi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pembelian sekitar 17 ton per bulan pada periode sebelum 2022.

Yield Tinggi Tidak Selalu Jadi Penghambat Emas

Salah satu tantangan yang masih dihadapi emas adalah biaya peluang ketika investor memilih logam mulia dibandingkan aset yang menghasilkan imbal hasil.

Namun, Kim menilai hubungan tersebut dapat berubah apabila kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal semakin besar. Dalam kondisi tertentu, kenaikan yield obligasi jangka panjang justru dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Pelemahan nilai mata uang fiat terhadap emas yang telah berlangsung selama beberapa tahun juga menjadi faktor yang diperhatikan. Kekhawatiran fiskal tidak hanya terjadi di negara-negara Barat, tetapi juga mulai menjadi perhatian di Jepang.

Situasi tersebut dapat mendorong investor melakukan diversifikasi lebih besar ke emas, terutama ketika kepercayaan terhadap stabilitas fiskal pemerintah menurun.

Data CPI AS Jadi Katalis Berikutnya

Pasar emas juga akan mencermati data inflasi Amerika Serikat. Kim menyebut data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus menjadi salah satu indikator penting sebelum keputusan kebijakan The Fed pada September 2026.

Data tersebut akan membantu pasar memperkirakan arah suku bunga sekaligus menentukan biaya peluang kepemilikan emas.

Menurut Kim, harga emas di sekitar US$4.000 dapat menjadi area yang cukup menarik. Level tersebut dinilai masih mendapat dukungan dari pembelian sovereign serta permintaan investor institusional.

Target Emas Goldman Sachs Capai US$4.900

Goldman Sachs sebelumnya memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$4.900 pada 2026. Bahkan, sejumlah analis bank investasi tersebut melihat peluang harga bergerak melampaui proyeksi tersebut apabila sejumlah katalis jangka menengah semakin kuat.

Salah satu faktor yang berpotensi mendorong kenaikan adalah masih rendahnya porsi emas dalam portofolio investor swasta.

Ketegangan geopolitik, termasuk konflik Iran dan risiko yang lebih luas di pasar global, dapat mempercepat diversifikasi emas dari bank sentral ke investor swasta.

Jika tren pembelian bank sentral tetap tinggi dan minat investor terhadap emas meningkat, Goldman Sachs melihat peluang penguatan harga emas masih terbuka lebar.

Dengan demikian, konsolidasi harga yang berlangsung saat ini belum dianggap sebagai akhir dari siklus bullish emas. Sebaliknya, perubahan ekspektasi suku bunga, kondisi fiskal, geopolitik, serta permintaan institusional akan menjadi penentu penting bagi arah harga emas berikutnya.