Topik.ID — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memaparkan sejumlah risiko yang dapat menggerus fiskal Indonesia akibat kenaikan harga minyak mentah dunia. Guncangan eksternal ini berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui peningkatan belanja subsidi dan kompensasi.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi DJSEF Kemenkeu, Noor Faisal Achmad, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar, listrik, transportasi, dan logistik dapat memicu inflasi. Tekanan pada fiskal akan semakin terasa ketika harga domestik ikut terpengaruh, yang berimplikasi pada bertambahnya alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi.
Indonesia, sebagai negara net importir minyak, turut menghadapi risiko dari sektor eksternal. Kenaikan harga minyak dunia dapat memperlebar defisit neraca perdagangan migas. Hal ini pada gilirannya berpotensi menekan transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Faisal menekankan bahwa Indonesia memiliki sejumlah buffer ekonomi yang kuat. Buffer ini mencakup pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang rendah, defisit fiskal yang terkendali, rasio utang publik yang dapat dikelola, serta cadangan devisa yang memadai. Ia menegaskan bahwa buffer ini merupakan hasil dari kredibilitas kebijakan yang telah dibangun dan berfungsi sebagai bantalan untuk melakukan penyesuaian kebijakan saat terjadi guncangan.
Strategi Pemerintah Hadapi Guncangan
Pemerintah telah menyiapkan strategi berlapis untuk menghadapi guncangan ekonomi. Salah satunya adalah penerapan subsidi yang berbasis aturan dan pengendalian volume untuk membatasi eksposur fiskal yang berpotensi tidak terbatas. Selain itu, penargetan program bantuan sosial dan ekonomi yang lebih baik juga diperlukan agar dukungan dapat tersalurkan tepat kepada rumah tangga yang membutuhkan.
Faisal menjelaskan bahwa analisis fiskal dilakukan secara berkelanjutan dengan memetakan berbagai asumsi dan risiko. Pemetaan ini mencakup fluktuasi harga minyak, nilai tukar, imbal hasil obligasi, dan target produksi minyak (lifting). Hal ini membantu mengidentifikasi risiko terhadap penerimaan negara, realisasi subsidi, dan belanja bunga utang.
Ia menekankan pentingnya respons fiskal yang selektif dalam menghadapi guncangan. Dukungan fiskal haruslah tepat waktu, tepat sasaran, dan bersifat sementara jika guncangan yang terjadi juga bersifat sementara. “Disiplin utamanya adalah selektivitas,” pungkas Faisal.
Ikuti Topik.ID
