— Nilai tukar rupiah kembali kehilangan pijakan terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Jumat, 11 September 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut setelah pada sesi sebelumnya rupiah juga berakhir di zona merah.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah di pasar spot dibuka turun 38 poin atau 0,22% ke level Rp17.585 per dolar AS. Pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, rupiah ditutup melemah 36 poin atau 0,21% di posisi Rp17.547 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS berada relatif stabil di level 99,072.

Dolar AS Menguat di Tengah Sentimen Risk-Off

Pergerakan mata uang pada awal perdagangan Asia turut dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Mengutip Reuters, indeks dolar AS sebelumnya berada di 99,081 setelah menguat 0,3% pada Kamis. Level tersebut menjadi posisi tertinggi sejak 7 September 2026.

Penguatan dolar juga mendapatkan dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat. Harga produsen AS tercatat naik 0,4% pada Agustus, sehingga pasar kembali memperhitungkan arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Analis pasar IG Australia Tony Sycamore menilai dolar AS mendapatkan dorongan dari aksi penghindaran risiko. Kenaikan harga energi juga menjadi faktor yang memperbesar perhatian pasar terhadap potensi kebijakan suku bunga The Fed.

Harga Minyak Naik, Ekspektasi The Fed Menguat

Tekanan terhadap rupiah semakin besar ketika harga minyak dunia kembali bergerak naik. Minyak mentah berjangka Brent tercatat menguat 1,2% menjadi US$108,96 per barel dalam perdagangan Asia.

Lonjakan harga energi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Bagi pasar keuangan, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap keputusan suku bunga The Fed pada pekan depan.

Menurut Sycamore, peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan berada di sekitar 70%. Perubahan ekspektasi tersebut membuat dolar AS relatif lebih menarik sekaligus menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Mata Uang Global Bergerak Bervariasi

Di pasar valuta asing global, pergerakan sejumlah mata uang utama relatif terbatas. Yen Jepang melemah untuk hari kedua pada awal perdagangan Asia, sejalan dengan meningkatnya tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi.

Dolar Australia bergerak datar di level US$0,7160. Sementara itu, dolar Selandia Baru menguat tipis 0,1% menjadi US$0,5805 terhadap dolar AS.

Euro juga cenderung stabil di posisi US$1,1613, sedangkan poundsterling Inggris bertahan di level US$1,3510 per dolar AS.

Bagi rupiah, arah perdagangan selanjutnya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan harga minyak, sentimen risiko global, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.