Topik.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah sejak pembukaan perdagangan pada Jumat (11/9/2026). Indeks sempat menukik hampir 2% pada awal sesi, menyentuh level terendah 6.462,96 sebelum akhirnya berada di level 6.497,36 pada pukul 11.00 WIB, dengan pelemahan 1,40%.
Pelemahan tajam IHSG dipicu oleh beberapa faktor. Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan sempat menembus US$ 104 per barel, sementara minyak Brent mendekati US$ 108 per barel, level tertinggi dalam hampir empat bulan terakhir.
Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, eskalasi konflik tersebut dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, serangan rudal ke Yordania, serta serangan Houthi ke fasilitas energi Arab Saudi.
Tekanan juga datang dari harga emas yang melanjutkan pelemahan hampir 2% pada sesi sebelumnya, berada di level US$ 4.300 per ons. Hal ini dipengaruhi oleh data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan kenaikan ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada pekan depan.
Pasar memperhitungkan ekspektasi The Fed yang hawkish akibat tekanan inflasi dari lonjakan harga energi. Kondisi ini menekan harga saham dan emas secara bersamaan, meskipun harga minyak justru melonjak akibat risiko geopolitik.
Riset MNC Sekuritas menambahkan bahwa pelemahan IHSG hari ini sejalan dengan pergerakan bursa saham global. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut menambah sentimen negatif terhadap pergerakan indeks saham.
Investor juga mencermati data PPI AS Agustus yang meningkat 0,4% month-on-month (MoM), sesuai dengan konsensus. Tekanan utama berasal dari sektor energi, dengan final-demand energy yang tercatat naik 4,2% MoM.
Meskipun inflasi inti (core inflation) mulai melandai, ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) justru meningkat. Probabilitas The Fed menaikkan suku bunga kini mencapai 72%, didorong oleh inflasi headline yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang dinilai belum cukup melemah.
Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun (UST10Y) naik ke level 4,95%. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi, terutama akibat kenaikan harga minyak, serta ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama atau higher-for-longer.
Secara teknikal, posisi pergerakan IHSG sedang berada dalam fase downtrend dan telah mencapai target koreksi di 6.502. Cermati area koreksi berikutnya di 6.448.
Ikuti Topik.ID
