— Harga minyak mentah dunia berpotensi mempertahankan tren penguatan hingga akhir tahun ini. Lonjakan pembelian minyak oleh China dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu faktor penopang utama, di tengah kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (10/9/2026) pukul 15.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level US$ 96,25 per barel, menguat 0,26% secara harian. Dalam sepekan, WTI telah menguat 5,32%, sementara dalam sebulan terakhir naik 15,57%.

Penguatan serupa juga dialami oleh harga minyak Brent, yang berada di level US$ 101,29 per barel. Harga Brent tercatat naik 0,08% secara harian, 5,92% dalam sepekan, dan 13,79% dalam sebulan.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menyoroti peningkatan permintaan dari China sebagai faktor krusial yang patut dicermati pelaku pasar minyak saat ini.

“China menjadi salah satu faktor yang semakin penting. Pembelian minyak China meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah sebelumnya lemah,” kata Brahmantya kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).

Brahmantya menambahkan, lonjakan pembelian minyak oleh China berpotensi memberikan dorongan tambahan terhadap harga minyak dunia. Situasi ini akan semakin kuat jika terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

“Jika berlanjut bersamaan dengan gangguan pasokan Timur Tengah, tekanan kenaikan harga bisa semakin besar,” ujarnya.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Harga Minyak

Selain perkembangan permintaan dari China, pergerakan harga minyak dunia juga akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain. Kebijakan OPEC+, tingkat persediaan minyak global, serta produksi minyak dari Amerika Serikat turut menjadi pertimbangan penting.

Kondisi perekonomian global juga memegang peranan signifikan karena berhubungan erat dengan tingkat konsumsi energi. Pertumbuhan ekonomi yang kuat cenderung menopang permintaan minyak, sementara perlambatan ekonomi dapat menekan konsumsi.

Namun, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi juga dapat menjadi risiko tersendiri bagi prospek permintaan. Harga energi yang mahal berpotensi mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada konsumsi minyak.

“Sebaliknya, minyak di atas US$ 100 juga berisiko meningkatkan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi. Jadi semakin tinggi minyak, semakin besar pula risiko demand destruction yang pada akhirnya dapat membatasi rally,” tutur Brahmantya.

Proyeksi Harga Hingga Akhir Tahun

Untuk proyeksi hingga akhir tahun, Brahmantya masih melihat adanya ruang bagi harga minyak untuk melanjutkan kenaikan. Ia memperkirakan harga WTI dapat bergerak dalam kisaran US$ 97 hingga US$ 115 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent diproyeksikan berada di kisaran US$ 110 hingga US$ 125 per barel hingga akhir tahun.