— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (11/9/2026) setelah pada sesi sebelumnya terkoreksi cukup dalam. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arus dana ke aset berisiko.

Pada perdagangan Kamis (10/9/2026), IHSG ditutup anjlok 88,86 poin atau 1,33% ke level 6.589. Tekanan terbesar datang dari sektor energi yang melemah 2,06%. Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan indeks masih memiliki ruang untuk terkoreksi, dengan area support dan resistance berada di 6.440-6.600.

Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian Investor

Pilarmas menilai sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG. Investor mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan The Fed setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat memberikan sinyal tekanan inflasi.

Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed dalam pertemuan mendatang meningkat dari 62,7% menjadi 72,7% setelah data US PPI Final Demand dirilis. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan harga tiket pesawat, biaya rumah sakit, serta komponen lain yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi.

Sementara itu, data ketenagakerjaan AS masih relatif stabil. US Initial Jobless Claims turun dari 207 ribu menjadi 206 ribu, sedangkan Continuing Claims bergerak dari 1,775 juta menjadi 1,774 juta. Kondisi tersebut membuat kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja belum menjadi tekanan utama.

Investor kemudian menunggu data US CPI bulanan dan tahunan yang dinilai dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS.

Risiko Inflasi Global Masih Membayangi Pasar

Perkembangan kebijakan bank sentral global turut menjadi perhatian. Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga kembali menguat, sementara konflik di Timur Tengah berpotensi menjaga tekanan inflasi dalam jangka lebih panjang.

Kombinasi risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi membuat prospek pasar menjadi lebih tidak pasti. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap IHSG maupun pasar obligasi domestik.

Jika The Fed mengambil kebijakan lebih ketat, ruang Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga rendah juga dapat menyempit. Pilarmas memperkirakan BI-Rate berpotensi mengalami kenaikan 25 basis poin apabila tekanan eksternal semakin kuat.

Kondisi APBN Beri Penyangga Pasar Domestik

Dari dalam negeri, kondisi fiskal masih menjadi salah satu faktor penahan tekanan. Hingga Juli 2026, penerimaan pajak mencapai Rp1.224,3 triliun atau tumbuh 23,7% secara tahunan.

Pada periode yang sama, belanja negara mencapai Rp1.969,6 triliun, naik 18,62% YoY. Defisit APBN tercatat Rp235,6 triliun atau setara 0,91% terhadap PDB, masih berada dalam ruang target defisit 2026 sebesar sekitar 2,85% terhadap PDB.

Pertumbuhan penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan belanja dinilai mencerminkan perbaikan administrasi dan kepatuhan perpajakan. Kondisi fiskal tersebut berpotensi menjaga kepercayaan investor terhadap aset domestik, termasuk saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

Tiga Saham Pilihan untuk Trading

Di tengah potensi koreksi IHSG, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan tiga saham untuk strategi trading pada Jumat (11/9/2026), yakni WIRG, TPIA, dan BRPT.

Ketiga saham tersebut menjadi pilihan ketika pasar masih bergerak volatil. Investor tetap perlu memperhatikan level teknikal dan dinamika sentimen pasar sebelum mengambil posisi, terutama karena tekanan dari kebijakan moneter global masih berpotensi membatasi ruang penguatan IHSG.