— Arus dana asing kembali berbalik arah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Rabu (9/9/2026), investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp438,5 miliar di seluruh pasar, dengan tekanan paling besar terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing di pasar reguler dengan nilai net sell mencapai Rp638,6 miliar. Tekanan jual juga menyasar BMRI dan CPIN, masing-masing sebesar Rp166,3 miliar dan Rp142,49 miliar. Di tengah arus dana keluar tersebut, investor asing masih memburu sejumlah saham, terutama ANTM dan AADI.

BBCA Menjadi Sasaran Utama Aksi Jual Asing

Data perdagangan BEI menunjukkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net sell asing terbesar pada sesi perdagangan hari ini. Nilainya mencapai Rp638,6 miliar di pasar reguler.

Posisi berikutnya ditempati PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell sebesar Rp166,3 miliar. Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) juga menghadapi tekanan jual asing senilai Rp142,49 miliar.

Besarnya pelepasan saham perbankan mencerminkan perubahan preferensi investor asing di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi sentimen eksternal. Sektor keuangan sendiri menjadi salah satu sektor yang berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan.

ANTM Dan AADI Justru Diburu Investor Asing

Tidak seluruh saham menjadi sasaran aksi jual asing. PT Antam Tbk (ANTM) justru mencatatkan net buy asing paling besar, yakni Rp373,9 miliar.

Minat beli asing berikutnya terlihat pada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan nilai net buy Rp149,4 miliar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga mencatat pembelian bersih asing sebesar Rp133,49 miliar.

Perbedaan arus dana tersebut menunjukkan investor masih melakukan rotasi portofolio di tengah volatilitas pasar. Saham komoditas dan emiten tertentu tetap mendapatkan aliran dana meskipun tekanan jual secara keseluruhan masih lebih dominan.

IHSG Ditutup Melemah Tipis

Pergerakan dana asing berlangsung ketika IHSG mengakhiri perdagangan Rabu di zona merah. Indeks turun 8,24 poin atau 0,12% ke level 6.678,2.

Sebanyak 325 saham berhasil menguat, sedangkan 337 saham turun dan 301 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp15,9 triliun.

Dari sisi sektoral, transportasi menjadi sektor dengan penguatan tertinggi sebesar 2,4%. Sektor perindustrian naik 0,9%, barang baku 0,8%, energi 0,7%, dan infrastruktur 0,4%.

Sebaliknya, sektor kesehatan terkoreksi 1,3%, barang konsumen non-primer turun 1,2%, teknologi melemah 0,9%, properti turun 0,8%, keuangan terkoreksi 0,5%, dan barang konsumen primer turun 0,39%.

Harga Minyak Dan Inflasi AS Jadi Perhatian

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai kenaikan harga minyak yang kembali mendekati US$100 per barel menjadi salah satu sentimen yang membebani pasar saham.

Pelaku pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut berpotensi menjadi acuan untuk membaca arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan bank sentral AS pada pekan depan.

Dari domestik, tekanan eksternal masih menjadi faktor utama yang membatasi pergerakan IHSG. Namun, daya beli masyarakat menunjukkan tanda positif. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Agustus 2026 berada di 118,5, naik dari 116,8 pada Juli.