Topik.id — Pemerintah Malaysia dan Indonesia mulai membahas langkah bersama untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan. Pembicaraan bilateral ini diarahkan untuk menjajaki dukungan teknis dalam menghadapi kabut asap lintas batas atau transboundary haze yang semakin mengkhawatirkan.
Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan, yang dikenal sebagai Tok Mat, mengatakan pembahasan melibatkan kementerian dan lembaga teknis dari kedua negara. Mengutip laporan Bernama pada Kamis (15/10/2026), koordinasi di Malaysia mencakup Kementerian Luar Negeri, Badan Pengurusan Bencana Negara (Nadma), serta Majlis Keselamatan Negara (MKN).
Malaysia dan Indonesia Jajaki Penanganan Bersama
Mohamad menyebut Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Amran Mohamed Zin, telah berdiskusi dengan MKN, Nadma, dan pihak Indonesia untuk membicarakan kemungkinan penanganan kebakaran secara bersama.
Menurutnya, pembicaraan tersebut menjadi perkembangan baru dalam upaya kedua negara menghadapi krisis asap. Meski belum menetapkan bentuk bantuan atau tindakan teknis yang akan dijalankan, pemerintah Malaysia menilai komunikasi formal ini sebagai langkah awal untuk memperkuat koordinasi.
Mohamad menegaskan, keputusan mengenai skema kerja sama akan ditentukan berdasarkan hasil pembahasan. Kedua pihak masih perlu mengidentifikasi kebutuhan dan bentuk dukungan yang dapat dilakukan oleh lembaga terkait.
Krisis kabut asap dilaporkan telah berlangsung lebih dari satu bulan dan mendekati bulan kedua. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat Malaysia, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan warga Indonesia dan Singapura.
Isu Kabut Asap Akan Dibawa ke Forum ASEAN
Selain menjalin komunikasi bilateral, Malaysia berencana mendorong pembahasan masalah kabut asap lintas batas melalui mekanisme regional. Pada Senin (12/10/2026), Mohamad menyampaikan rencana membawa persoalan tersebut ke pertemuan para menteri luar negeri ASEAN mendatang.
Agenda itu menjadi perhatian menjelang Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-49 yang dijadwalkan berlangsung di Manila pada bulan berikutnya. Malaysia berharap negara-negara anggota dapat memperkuat koordinasi untuk menangani bencana asap yang berulang di kawasan Asia Tenggara.
Tantangan Penanganan Kabut Asap di Asia Tenggara
Karhutla di kawasan gambut dan vegetasi lebat di Sumatra serta Kalimantan dapat menghasilkan asap yang terbawa angin hingga ke negara tetangga. Selain menurunkan kualitas udara, kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, penerbangan, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
ASEAN telah memiliki ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution sejak 2002 sebagai landasan kerja sama penanganan polusi asap lintas negara. Namun, pelaksanaan di lapangan tetap membutuhkan koordinasi teknis, mulai dari pencegahan kebakaran hingga respons darurat.
Pembahasan antara Kuala Lumpur dan Jakarta diharapkan membuka ruang kerja sama yang lebih terarah. Hasilnya akan bergantung pada kesepakatan kedua negara serta langkah lanjutan yang disusun oleh lembaga terkait.


