— PT United Tractors Tbk (UNTR) memaparkan kinerja keuangan konsolidasiannya hingga semester pertama tahun 2026. Perseroan mencatat pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun, yang mengalami penurunan 15% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 yang mencapai Rp68,5 triliun.

Penurunan pendapatan bersih ini terutama dipicu oleh penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources. Selain itu, kinerja segmen Alat Berat dan Pertambangan Batu Bara Termal serta Metalurgi juga terkoreksi akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah.

Meskipun demikian, penurunan tersebut sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Kontraktor Penambangan. Sektor ini didorong oleh penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah.

Laba Bersih Turun Signifikan

Manajemen United Tractors melaporkan bahwa laba bersih Perseroan, setelah dikecualikan dari pos non-recurring items, turun sebesar 48% menjadi Rp4,3 triliun. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh rendahnya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan koreksi pendapatan yang mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah.

Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe juga berkontribusi terhadap penurunan tersebut, yang awalnya disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang. Namun, Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua tahun 2026.

Selama semester pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring items senilai Rp3,3 triliun. Pos ini terutama terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, yang berkaitan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Posisi Utang dan Rasio Gearing

Hingga 30 Juni 2026, Perseroan mencatat posisi utang bersih sebesar Rp9,4 triliun. Rasio gearing tercatat sebesar 8,5%, berbanding terbalik dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan dampak dari akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

Kinerja Segmen Alat Berat

Dalam bisnis alat berat hingga bulan Juli 2026, United Tractors mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 23% menjadi 2.393 unit. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya penjualan big machine di sektor pertambangan sebesar 49% menjadi 405 unit, sebagai akibat dari alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Pendapatan bersih dari segmen Alat Berat secara total mengalami penurunan 28% menjadi Rp15,0 triliun. Meskipun demikian, pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat mengalami sedikit peningkatan sebesar 1% menjadi Rp5,5 triliun.

Untuk memperkuat layanan purna jual dan rantai pasok komoditas, Perseroan juga mengandalkan bisnis pendukung melalui anak usahanya. Layanan ini mencakup rekayasa, manufaktur komponen dan attachment alat berat, serta penawaran layanan logistik maritim, pembuatan dan pemeliharaan kapal.

Performa Segmen Kontraktor Penambangan

Hingga bulan Juli 2026, segmen usaha kontraktor penambangan yang dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 573 juta bcm. Volume produksi batu bara untuk para kliennya juga turun 3% menjadi 80 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,1x.

Penyesuaian target produksi klien ini mengikuti persetujuan RKAB yang telah ditetapkan. Sejalan dengan peluang bisnis yang berkembang di sektor mineral selain batu bara, PAMA dan KPP Mining terus memperkuat ekspansinya ke sektor emas dan nikel.

Pendapatan bersih dari segmen kontraktor penambangan naik 4% menjadi Rp27,2 triliun pada semester pertama 2026. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh penguatan kurs USD.

Kinerja Segmen Pertambangan Batu Bara dan Mineral

Pada segmen usaha pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources) mencatat volume penjualan batu bara sebesar 6,5 juta ton hingga Juli 2026. Jumlah ini turun 18% dari periode yang sama di tahun 2025, termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi.

Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi turun sebesar 4% menjadi Rp12,9 triliun pada semester pertama tahun 2026, sejalan dengan penurunan volume penjualan batu bara.

Sementara itu, segmen usaha pertambangan emas dan mineral lainnya mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 66% menjadi Rp2,4 triliun pada semester I-2026. Penurunan ini terutama dipicu oleh penjualan emas yang merosot 82%.

Bisnis pertambangan emas yang dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatat total penjualan setara emas sebesar 32 ribu ons hingga bulan Juli 2026. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan 143 ribu ons pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Pada lini bisnis nikel yang digarap PT Stargate Pasific Resources, tercatat penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wet metric ton (wmt) hingga Juli 2026. Angka tersebut terdiri dari 316 ribu wmt saprolit dan 657 ribu wmt limonit.