— Rupiah mengawali perdagangan Rabu, 9 September 2026 dengan penguatan cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan positif mata uang Garuda terjadi ketika pasar valuta asing global masih bergerak hati-hati menghadapi perubahan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral utama.

Data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah di pasar spot menguat 55 poin atau 0,31% ke level Rp17.577 per dolar AS. Kinerja tersebut lebih baik dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, ketika rupiah hanya naik 8 poin atau 0,05% dan ditutup pada posisi Rp17.632 per dolar AS.

Rupiah Menguat Saat Dolar AS Bergerak Stabil

Penguatan rupiah berlangsung ketika indeks dolar AS relatif tidak banyak berubah. Pada perdagangan Rabu pagi, indeks dolar terpantau berada di level 98,785.

Pergerakan dolar yang cenderung stabil memberikan ruang bagi sejumlah mata uang untuk bergerak lebih fleksibel. Namun, pelaku pasar tetap memperhitungkan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi arah valuta asing dalam jangka pendek.

Salah satu perhatian utama berasal dari kenaikan harga minyak dunia. Harga energi yang kembali meningkat berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi, terutama apabila tren tersebut berlangsung dalam periode yang lebih panjang.

Selain minyak, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat investor mengambil posisi lebih berhati-hati. Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar negara berkembang karena perubahan imbal hasil aset AS dapat memengaruhi arus modal global.

Penguatan Yen Menjadi Perhatian

Dinamika yen Jepang turut menjadi salah satu faktor penting dalam perdagangan mata uang global. Mengutip Reuters, yen telah menguat hampir 5% sejak pekan lalu dan bertahan di sekitar level terkuat dalam tujuh bulan terakhir.

Penguatan yen dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat mempercepat pengetatan kebijakan moneternya. Investor juga memperkirakan adanya potensi repatriasi dana luar negeri oleh pelaku pasar Jepang.

Selain itu, pembalikan posisi carry trade ikut memberikan dorongan terhadap yen. Tekanan dari Washington kepada pelaku pasar yang bertaruh terhadap pelemahan yen juga menjadi sentimen tambahan.

Dalam perdagangan Asia, yen sempat mencapai 152,89 per dolar AS. Level tersebut bahkan melewati posisi yang tercatat ketika Jepang melakukan intervensi pada Juli.

Namun, yen kemudian memangkas sebagian penguatannya. Mata uang Jepang terakhir tercatat naik 0,03% menjadi 153,81 per dolar AS.

Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex, menyebut pergerakan tersebut sebagai kelanjutan dari short squeeze yang kuat sejak pekan lalu.

Investor Menunggu Keputusan The Fed

Perhatian pasar selanjutnya mengarah kepada Federal Reserve. Investor saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga pada bulan ini.

Ekspektasi tersebut menguat setelah data tenaga kerja non-pertanian atau nonfarm payrolls AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.

Data tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter. Apabila perekonomian AS masih menunjukkan ketahanan dan tekanan inflasi meningkat akibat harga energi, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat menjadi lebih besar.

Bagi pasar valuta asing, kenaikan suku bunga AS berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik.

Mata Uang Utama Bergerak Beragam

Sementara itu, euro tercatat bergerak relatif datar di level US$1,1628. Di sisi lain, dolar Kanada menguat 0,23% terhadap dolar AS menjadi C$1,378.

Perbedaan pergerakan mata uang tersebut menunjukkan investor masih menunggu katalis baru sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Untuk rupiah, penguatan ke Rp17.577 menjadi perkembangan positif pada awal perdagangan. Namun, keberlanjutan tren tersebut masih akan dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, yen Jepang, harga minyak, imbal hasil obligasi AS, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Jika tekanan dolar mereda, rupiah berpeluang mempertahankan momentum penguatan. Sebaliknya, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat kembali meningkatkan volatilitas rupiah hingga akhir perdagangan.