Topik.id — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat sektor asuransi kredit di industri asuransi umum mengalami kenaikan premi sebesar 9,3% secara tahunan atau Year on Year (YoY). Nilai tersebut menyentuh angka Rp9,32 triliun sepanjang paruh pertama tahun ini. Di sisi lain, peningkatan turut terjadi pada sektor klaim asuransi kredit yang melonjak 32,7% YoY hingga berada di posisi Rp9,28 triliun.
Lonjakan klaim tersebut berdampak langsung pada pembengkakan rasio klaim asuransi kredit di industri. Tercatat, rasio tersebut melonjak dari posisi 82,1% pada semester pertama tahun lalu menjadi 99,6% pada semester I-2026.
Menanggapi kondisi tersebut, PT Asuransi Asei Indonesia memandang tingginya rasio klaim ini sebagai pengingat agar ekspansi bisnis wajib dibarengi kedisiplinan dalam pengelolaan risiko serta mutu underwriting.
Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, menjelaskan bahwa pelaku industri tidak boleh sekadar fokus memburu pertumbuhan premi seiring tren penyaluran kredit perbankan yang sedang meningkat. Berdasarkan data Bank Indonesia, ekspansi kredit perbankan tercatat tumbuh 13,65% YoY hingga Agustus 2026.
Menurut Dody, perusahaan asuransi dituntut lebih selektif dalam menyaring risiko. Langkah ini mencakup penelaahan mendalam terhadap profil peminjam, mutu portofolio kredit, sektor usaha yang didanai, rekam jejak pembayaran, serta spesifikasi produk kredit yang dijamin dengan menerapkan prinsip growth with quality.
“Selain itu, penguatan monitoring portofolio secara berkala juga perlu dilakukan, tidak hanya melihat loss ratio setelah klaim terjadi. Data early warning dari portofolio kredit perlu digunakan untuk mendeteksi lebih dini perubahan kualitas debitur dan konsentrasi risiko,” ucapnya kepada Kontan, Kamis (24/9).
Lebih lanjut, Dody menekankan pentingnya pembagian risiko atau risk sharing bersama lembaga penyalur pembiayaan. Dirinya menegaskan bahwa produk asuransi kredit hakikatnya bukan instrumen untuk mengalihkan seluruh risiko pembiayaan secara penuh kepada pihak asuransi. Karenanya, mutu underwriting kredit menjadi tanggung jawab bersama antara pihak pemberi pinjaman, perusahaan asuransi, serta perusahaan reasuransi.
Atas dasar itu, industri asuransi ke depan didorong untuk mengoptimalkan pendekatan portfolio-based underwriting ketimbang sekadar menilai risiko secara perorangan.
Dody memproyeksikan potensi tekanan terhadap rasio klaim masih berpotensi berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh karakteristik klaim asuransi kredit yang umumnya memiliki jeda waktu atau lag sejak terjadinya gagal bayar, pengajuan klaim, tahapan verifikasi, hingga proses pencairan dana klaim.
Kendati demikian, pergerakan rasio klaim ini juga perlu dibaca berdampingan dengan kesehatan kualitas kredit perbankan secara makro. Merujuk data hingga Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 13,65% secara tahunan, sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross pada Juli lalu masih tertahan di level 2,10%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kualitas kredit perbankan secara keseluruhan masih terjaga dengan baik di tengah laju pertumbuhan yang cepat.
“Dengan demikian, yang perlu dipertimbangkan adalah karakteristik portofolio, pricing, expense ratio, komisi, biaya reasuransi, struktur retensi, dan faktor underwriting lainnya,” tuturnya.
Dody menambahkan, angka ideal untuk rasio klaim bukan sekadar persentase kaku, melainkan perbandingan yang mampu memberikan ruang bagi perusahaan untuk menutup berbagai beban operasional, biaya akuisisi, biaya modal, dan biaya reasuransi. Dengan begitu, perusahaan dapat mencatatkan marjin underwriting yang sehat.
Dia menegaskan bahwa rasio klaim yang mendekati angka 100% tentu tidak akan berkelanjutan apabila terus berlangsung dalam jangka panjang. Sebab, hampir seluruh perolehan premi langsung tergerus untuk melunasi klaim sebelum memperhitungkan komponen biaya lainnya.
“Oleh karena itu, yang perlu menjadi sasaran industri adalah rasio klaim yang sustainable sesuai karakteristik produk dan profil risikonya, bukan sekadar mengejar penurunan rasio secara jangka pendek,” ungkap Dody.
