Market

Rupiah Ditutup Melemah Hari Ini 21 Oktober, Tembus ke Rp18.022 per Dolar AS

Rupiah ditutup melemah ke Rp18.022 per dolar AS pada 21 Oktober 2026 setelah BI menahan suku bunga 5,75%, di tengah tekanan geopolitik dan inflasi AS.

Rupiah Ditutup Melemah Hari Ini 21 Oktober, Tembus ke Rp18.022 per Dolar AS
aryawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) (Sumber: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026). Mata uang Indonesia terdepresiasi 30 poin atau 0,17% hingga menyentuh level Rp18.022 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.992 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan. Selain faktor domestik, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta perkembangan inflasi Amerika Serikat turut memengaruhi sentimen pelaku pasar.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% menjadi salah satu faktor yang mewarnai pergerakan rupiah.

Dalam keputusan tersebut, Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility pada level 6,50%.

“BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan beruntun. Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% pada RDG Agustus 2026,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).

Konflik Timur Tengah Tambah Tekanan terhadap Rupiah

Selain kebijakan moneter domestik, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian investor. Situasi keamanan di kawasan tersebut kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan insiden kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Media Iran melaporkan bahwa sebuah kapal tanker berukuran besar terbakar setelah menghantam ranjau laut di sebelah selatan Selat Hormuz.

Berdasarkan keterangan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran yang diberitakan pada Selasa (20/10/2026), kapal tersebut disebut melanggar peraturan yang diberlakukan Iran.

Peristiwa tersebut menambah ketidakpastian geopolitik di kawasan yang memiliki peran strategis bagi jalur distribusi energi dunia.

Ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak global. Kondisi ini juga dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Inflasi AS Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dari Amerika Serikat, perkembangan indikator inflasi turut memberikan tekanan terhadap pergerakan mata uang global.

Data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) AS periode September dilaporkan lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026 untuk mengendalikan inflasi menuju target 2%.

Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Sebaliknya, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang akibat perubahan arus investasi global.

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi AS lainnya untuk memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed pada pertemuan mendatang.

Salah satu data yang menjadi perhatian adalah klaim awal tunjangan pengangguran atau Initial Jobless Claims, yang diperkirakan mengalami sedikit kenaikan.

“Investor juga akan memantau data klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims), yang diperkirakan naik dari 199.000 menjadi 200.000,” jelas Ibrahim.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh respons investor terhadap kebijakan Bank Indonesia, perkembangan konflik Timur Tengah, serta data ekonomi AS yang dapat mengubah ekspektasi arah suku bunga The Fed.