Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (21/10/2026) setelah mencatatkan rebound signifikan sehari sebelumnya. Meski demikian, pelaku pasar masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Di tengah peluang kenaikan indeks, tekanan jual investor asing menjadi perhatian. Investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang diperkirakan memengaruhi pergerakan saham, obligasi, serta nilai tukar rupiah.
IHSG Berpeluang Menguat, Investor Asing Masih Jual Saham
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai IHSG telah melewati fase awal pola gelombang kelima atau wave 5/(C)/Y. Indikator Stochastics K_D dan RSI menunjukkan kecenderungan positif, disertai peningkatan volume perdagangan.
Nafan memperkirakan level support IHSG berada di 5.111 dan 4.907, sedangkan resistance terletak pada 5.333 dan 5.597.
Namun, optimisme teknikal tersebut belum sepenuhnya didukung arus dana asing. Investor asing membukukan net sell Rp 2,13 triliun, sehingga total jual bersih sejak awal 2026 mencapai Rp 116,45 triliun. IHSG juga masih terkoreksi 38,95 persen sepanjang tahun berjalan.
Menurut Nafan, dominasi investor domestik yang menyumbang 56 persen transaksi membantu menyerap tekanan jual, khususnya pada saham berkapitalisasi besar. Kenaikan indeks juga berpotensi menjadi technical rebound yang membuka peluang bargain hunting pada saham-saham yang harganya telah terkoreksi dalam.
Meski demikian, pemulihan tersebut belum menunjukkan bahwa kepercayaan investor telah kembali sepenuhnya. Evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia masih menjadi risiko yang perlu dicermati.
Kebijakan BEI dan Buyback Jadi Penopang Sentimen
Penyesuaian batas auto rejection bawah (ARB) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) serta pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG berpotensi membantu mengurangi tekanan pasar.
Selain itu, rencana buyback emiten, penguatan investor institusi domestik, serta rencana pembelian saham oleh Danantara dan konsorsium yang dikaitkan dengan Jusuf Hamka dapat mendukung sentimen. Namun, dampaknya bergantung pada realisasi dan besaran dana yang disiapkan.
Keputusan Suku Bunga BI Turut Menentukan Arah IHSG
Pasar juga menunggu keputusan BI-Rate. Konsensus ekonom memperkirakan bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 6 persen untuk merespons tekanan rupiah.
Jika BI mempertahankan suku bunga dengan komunikasi yang meyakinkan, saham perbankan dan obligasi berpeluang memperoleh sentimen positif. Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat menambah biaya pendanaan dan menahan pertumbuhan kredit.
Rupiah dilaporkan menguat 0,30 persen ke Rp 17.992 per dolar AS. Di pasar global, saham Equifax, Hasbro, dan 3M menguat, sedangkan General Motors melemah 8,5 persen. Harga minyak Brent turun 0,42 persen menjadi US$ 109,09 per barel.
Nafan menyarankan investor mencermati saham berfundamental kuat, memiliki neraca sehat, prospek pertumbuhan jelas, dan likuiditas memadai, sembari menerapkan manajemen risiko secara disiplin.









