Topik.id — Pengintegrasian kajian Al-Qur’an dengan teknologi digital dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban Islam global. Arah baru keilmuan ini menjadi fokus utama dalam Seminar Internasional Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI yang diselenggarakan di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sambutannya menegaskan pentingnya adaptasi kekayaan warisan intelektual Islam Nusantara dengan kemajuan sains dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Nasaruddin Umar menyoroti tradisi intelektual dan keagamaan panjang yang dimiliki Jawa Tengah, yang telah melahirkan tokoh-tokoh keilmuan seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Kiai Saleh Darat. Ia menekankan bahwa tradisi ini perlu terus dikembangkan dalam konteks kekinian, dengan perguruan tinggi dan lingkungan akademik memegang peran penting dalam menghidupkan kembali tradisi intelektual yang menjadikan Al-Qur’an sebagai objek kajian.
Menurutnya, Al-Qur’an memiliki susunan dan kandungan yang kaya untuk dikaji dari berbagai perspektif. Ia mengajak peserta seminar untuk melihat Al-Qur’an tidak hanya sebagai teks bacaan rutin, melainkan sebagai sumber kajian mendalam. Kemajuan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), membuka kemungkinan baru untuk melihat fenomena secara lebih mendalam dan memperluas ruang kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Menag juga mengaitkan perkembangan kajian ini dengan konsep guru yang lebih luas, di mana proses belajar tidak hanya melalui manusia, tetapi juga melalui pembelajaran dari alam dan berbagai fenomena di dalamnya. Konsep multiple teachers atau guru yang kompleks inilah yang perlu dibangkitkan kembali.
Ia menilai perkembangan teknologi digital dapat memperluas cara manusia memperoleh pengetahuan, sehingga kajian Al-Qur’an perlu ditempatkan dalam ruang intelektual yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, ia berharap pengembangan tradisi intelektual ini dapat mengarahkan Indonesia untuk memiliki peran lebih besar dalam pengembangan kajian Al-Qur’an, bahkan menjadikannya sebagai salah satu pusat pengembangan di masa mendatang.
Seminar internasional ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, Rektor Universitas Negeri Semarang Martono, Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis Hanafi, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo Salamah Daud, serta Muhammad Hannan Hassan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi membuka kegiatan yang menjadi ruang pertemuan akademik untuk membahas pengembangan kajian Al-Qur’an dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.
Ikuti Topik.id
