Prospek surplus perdagangan Indonesia menjelang akhir 2026 menjadi perhatian pelaku pasar. Chief Economist Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan kelebihan nilai ekspor atas impor akan berkurang secara signifikan seiring meningkatnya kebutuhan impor energi dan barang produksi.
Penyusutan surplus tersebut dinilai dapat mengurangi penyangga eksternal bagi perekonomian. Ketika kontribusi perdagangan melemah, pergerakan rupiah berpotensi semakin dipengaruhi oleh arus modal asing dan perubahan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Penurunan Impor Energi Diperkirakan Tidak Berlangsung Lama
Irman menjelaskan, surplus perdagangan pada September 2026 masih terbantu oleh peningkatan ekspor serta berkurangnya impor minyak dan gas. Kondisi tersebut memberikan dukungan terhadap neraca perdagangan, terutama dari sisi pengeluaran untuk kebutuhan energi.
Namun, efek positif penurunan impor energi diperkirakan tidak bertahan lama. Volume pembelian minyak dari luar negeri berpotensi kembali meningkat, sementara harga minyak yang masih tinggi dapat memperbesar nilai impor energi dalam beberapa bulan ke depan.
Di luar sektor energi, kebutuhan bahan baku dan barang modal juga diperkirakan tetap menjadi faktor pendorong impor. Aktivitas produksi yang berkelanjutan membuat industri membutuhkan pasokan input dari luar negeri untuk menunjang kegiatan usaha.
Menurut Irman, tingginya impor nonmigas tersebut dapat mengurangi sebagian manfaat yang diperoleh dari penerimaan ekspor. Kombinasi kenaikan kebutuhan energi dan impor barang produksi berpotensi membuat surplus perdagangan semakin tipis menjelang penghujung tahun.
Rupiah Lebih Bergantung pada Arus Modal Asing
Menyusutnya surplus perdagangan dapat mengubah sumber penopang stabilitas eksternal Indonesia. Selama surplus masih kuat, penerimaan dari kegiatan ekspor membantu menyediakan pasokan valuta asing. Ketika kontribusi tersebut berkurang, arus modal masuk menjadi semakin penting untuk menjaga keseimbangan pasar valuta.
Irman mengingatkan bahwa ketergantungan yang lebih besar terhadap capital inflows membuat rupiah sensitif terhadap perubahan sentimen investor. Pergeseran aliran dana asing, baik akibat perkembangan global maupun persepsi terhadap risiko domestik, dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar.
Situasi tersebut membuat pengelolaan pasar valuta asing dan likuiditas tetap dibutuhkan. Bank Indonesia diperkirakan perlu menjaga ketersediaan likuiditas sekaligus melakukan intervensi valuta asing apabila tekanan terhadap rupiah meningkat.
Suku Bunga BI Diperkirakan Berada di Level 6,25%
Dalam proyeksinya, Irman memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate berada di level 6,25% pada akhir 2026. Stabilitas eksternal disebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Inflasi terkini yang lebih rendah memberikan ruang bagi BI untuk mempertimbangkan kebijakan suku bunga. Meski demikian, ruang tersebut perlu diperhitungkan bersama perkembangan nilai tukar dan kondisi neraca perdagangan.
Apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung berkepanjangan, kenaikan suku bunga dapat menjadi salah satu opsi untuk memperkuat daya tarik aset berdenominasi rupiah. Imbal hasil yang lebih tinggi diharapkan membantu mempertahankan minat investor sekaligus membatasi tekanan terhadap nilai tukar.
Irman juga menilai respons kebijakan perlu dilakukan pada waktu yang tepat. Langkah tersebut penting untuk menjaga ekspektasi pasar dan mencegah pelemahan rupiah merambat menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.
Menurutnya, keseimbangan antara stabilitas eksternal dan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian dalam menentukan respons kebijakan ke depan.









