Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026). Mata uang Garuda berakhir di level Rp18.135 per dolar AS, turun 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.080 per dolar AS.
Pelemahan membawa rupiah semakin jauh melewati level psikologis Rp18.100 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik berlangsung di tengah tingginya harga minyak dunia, arus keluar modal asing, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Sepanjang perdagangan Senin, rupiah bergerak fluktuatif. Setelah sempat mengurangi pelemahan pada pagi hari, tekanan kembali meningkat hingga menjelang penutupan pasar.
Rupiah ditutup melemah 55 poin
Rupiah membuka perdagangan awal pekan di kisaran Rp18.110 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan posisi penutupan Jumat (23/10/2026). Pada pukul 09.08 WIB, rupiah sempat menguat ke Rp18.085 per dolar AS, tetapi pergerakan tersebut tidak bertahan.
Memasuki pukul 14.08 WIB, rupiah melemah ke Rp18.125 sebelum menutup perdagangan di Rp18.135 per dolar AS.
| Waktu perdagangan | Kurs rupiah | Keterangan |
|---|---|---|
| Jumat, 23 Oktober | Rp18.080 | Penutupan sebelumnya |
| Senin, pembukaan | Rp18.110 | Melemah 30 poin |
| Senin, 09.08 WIB | Rp18.085 | Sempat menguat |
| Senin, 14.08 WIB | Rp18.125 | Kembali melemah |
| Senin, penutupan | Rp18.135 | Turun 55 poin (0,30%) |
Pergerakan tersebut memperlihatkan tekanan terhadap rupiah masih kuat pada awal pekan terakhir Oktober 2026.
Harga minyak dunia membebani rupiah
Tingginya harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam.
Pada perdagangan Senin, minyak Brent masih berada di kisaran US$115 per barel meskipun sempat terkoreksi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi.
Ketika permintaan dolar AS untuk transaksi internasional meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat bertambah. Lonjakan harga energi juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi kebijakan moneter global.
Arus keluar modal asing turut menekan rupiah
Tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan aktivitas investor asing di pasar keuangan domestik. Arus keluar modal asing atau capital outflow dari saham dan instrumen keuangan lain dapat meningkatkan permintaan dolar AS.
Ketika investor asing menjual aset berdenominasi rupiah dan mengalihkan dana ke mata uang asing, nilai tukar domestik dapat mengalami tekanan. Pada Senin, pasar obligasi Indonesia turut mengalami penyesuaian harga yang tercermin dari kenaikan imbal hasil sejumlah surat utang pemerintah.
Meski demikian, perubahan rupiah tidak hanya ditentukan arus modal asing, tetapi juga transaksi perdagangan internasional dan kondisi likuiditas valuta asing.
Rupiah mendekati level terlemah sepanjang 2026
Penutupan di Rp18.135 per dolar AS membawa rupiah mendekati level terlemah yang sempat terjadi pada awal Juni 2026, ketika kurs pernah mencapai kisaran Rp18.190 per dolar AS.
| Periode | Kurs per dolar AS |
|---|---|
| Level terlemah awal Juni 2026 | Sekitar Rp18.190 |
| Penutupan 23 Oktober 2026 | Rp18.080 |
| Penutupan 26 Oktober 2026 | Rp18.135 |
Meskipun mendekati level tersebut, arah perdagangan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan pasar global dan respons investor terhadap berbagai sentimen ekonomi.
Keputusan The Fed jadi perhatian pasar
Pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Keputusan tersebut dapat memengaruhi daya tarik instrumen investasi berdenominasi dolar AS.
Jika The Fed memberikan sinyal mempertahankan kebijakan moneter ketat, dolar AS dapat memperoleh dukungan. Sebaliknya, sinyal kebijakan lebih longgar dapat membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Investor juga akan memperhatikan pernyataan bank sentral AS mengenai inflasi dan kondisi ekonomi serta perkembangan harga minyak dan arus modal internasional.
Rupiah tertekan sepanjang pekan terakhir Oktober
Pada periode 19–23 Oktober 2026, rupiah bergerak dari kisaran Rp18.046 menjadi Rp18.080 per dolar AS, melemah sekitar 34 poin atau 0,18 persen sepanjang pekan tersebut.
Tekanan berlanjut pada Senin dengan pelemahan tambahan 55 poin. Harga minyak, ketidakpastian geopolitik, dan penyesuaian aliran modal internasional menjadi perhatian pelaku pasar.
Prospek rupiah setelah penutupan hari ini
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah dapat bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS sepanjang pekan 26–30 Oktober 2026. Proyeksi tersebut mempertimbangkan harga minyak, arah dolar AS, dan risiko geopolitik, serta bukan kepastian pergerakan kurs.
Dengan penutupan Rp18.135 per dolar AS pada Senin (26/10/2026), rupiah melemah 0,30 persen dibandingkan akhir pekan sebelumnya. Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada kebijakan The Fed, harga minyak dunia, dan aktivitas investor asing yang akan memengaruhi nilai tukar.









