Market

Rupiah Ditutup Melemah Hari Ini 22 Oktober Makin ke Level Rp18.060, Ini Sentimen Penyebabnya

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini di tengah bayang-bayang konflik geopolitik dan proyeksi ekonomi.

Rupiah Ditutup Melemah Hari Ini 22 Oktober Makin ke Level Rp18.060, Ini Sentimen Penyebabnya
Seorang pegawai Bank menunjukkan uang Rupiah dan Dolar AS (Sumber: ANTARA)

Mata uang Garuda kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan terhadap dolar Amerika Serikat hari Kamis, 22 Oktober 2026.

Berdasarkan data perdagangan sore ini, rupiah terpantau melemah sebanyak 38 poin atau sekitar 0,21 persen. Posisi tersebut membuat nilai tukar berada di level Rp18.060 per dolar AS, setelah sebelumnya berada pada penutupan di level Rp18.022 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi usai lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan kinerja ekonomi masih akan berada di bawah target pemerintah yang dipatok sebesar 8 persen.

Pemerintah sendiri mulai merencanakan target pertumbuhan ekonomi pada 2027 mendatang sebesar 6 persen. Angka tersebut melampaui target tahun ini yang berada di kisaran 5,4 persen, meski pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi belum mampu mencapai target ambisius tersebut.

Dari faktor luar negeri, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang belum menunjukkan titik terang dan terus memicu kecemasan di pasar keuangan.

Situasi keamanan kian memanas menyusul eskalasi serangan dari kelompok militan Houthi yang dilaporkan kembali meningkat di wilayah Arab Saudi.

Di sisi lain, tensi politik di kawasan Eropa Timur mulai memperlihatkan tanda-tanda mereda. Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menggelar pertemuan dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg pada Rabu guna membicarakan upaya penghentian perang di Ukraina.

Langkah diplomasi tersebut bergulir di tengah dorongan kuat dari Washington demi menyudahi konflik bersenjata terbesar di daratan Eropa sejak era Perang Dunia Kedua.

“Di Amerika Serikat, agenda ekonomi relatif sepi, namun pelaku pasar mendapatkan sentimen positif dari bursa saham AS yang terus menguat, didorong oleh lonjakan saham sektor teknologi akibat antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI),” Ibrahim menyoroti dalam keterangannya, yang diperoleh pada Kamis (22/10/2026).