Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kekhawatiran terhadap kondisi pasar keuangan dan munculnya peringatan pelemahan kurs hingga Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur BI Destry Damayanti menyebut pergerakan mata uang domestik dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi fundamental ekonomi hingga keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry seusai menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Pada hari yang sama, data Bloomberg pukul 15.00 WIB menunjukkan rupiah menguat 47 poin atau 0,26% ke posisi Rp18.137 per dolar AS.
BI Pantau Pergerakan Rupiah dan Kondisi Ekonomi Global
Destry mengatakan stabilitas nilai tukar diperlukan untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Dengan kondisi tersebut, sektor riil diharapkan dapat berkembang dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
Menurut dia, BI terus memantau perkembangan rupiah di pasar keuangan. Pergerakan kurs tidak hanya dipengaruhi kondisi dalam negeri, tetapi juga persepsi pelaku pasar serta dinamika ekonomi internasional.
Destry menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif baik dibandingkan sejumlah negara tetangga. Selain itu, perkembangan ekonomi global mulai menunjukkan tanda pemulihan yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap kondisi domestik.
Keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang belum menaikkan suku bunga acuannya turut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Meski demikian, BI menyadari terdapat faktor eksternal yang berada di luar kendali otoritas moneter.
Karena itu, Destry menegaskan fokus utama bank sentral tetap pada upaya menjaga kestabilan rupiah agar kegiatan ekonomi nasional dapat berlangsung dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan.
Hashim Peringatkan Risiko Rupiah Melemah hingga Rp22.000
Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyoroti potensi dampak persoalan tata kelola pasar modal terhadap perekonomian Indonesia. Ia meminta investor menjalankan kegiatan investasi secara transparan dan mematuhi ketentuan yang berlaku.
Hashim memperingatkan bahwa pelanggaran yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kepercayaan investor. Jika investor asing menarik dana dari pasar saham Indonesia, tekanan terhadap rupiah dikhawatirkan semakin besar.
Ia menyebut nilai tukar rupiah berpotensi berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per dolar AS. Bahkan, terdapat perkiraan yang menyebut kurs bisa mencapai Rp22.000 per dolar AS.
Menurut Hashim, pelemahan rupiah pada level tersebut akan meningkatkan beban pembayaran pinjaman luar negeri karena kebutuhan rupiah untuk memenuhi kewajiban dalam dolar AS menjadi lebih besar.
Usulan Perubahan Klasifikasi MSCI Jadi Sorotan
Kekhawatiran Hashim juga berkaitan dengan langkah MSCI yang pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi indeks Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Pelaku pasar diberi kesempatan menyampaikan masukan hingga 30 April 2027. Keputusan akhir mengenai status pasar saham Indonesia dijadwalkan diumumkan pada atau sebelum 30 Juni 2027.
Hashim menilai persoalan transparansi dan praktik perdagangan saham perlu menjadi perhatian bersama. Ia menyoroti dugaan penggorengan saham, yakni upaya memengaruhi harga secara artifisial sehingga menciptakan pergerakan yang tidak mencerminkan kondisi pasar secara wajar.
Saham dengan porsi kepemilikan publik atau free float terbatas, tetapi memiliki rasio harga terhadap laba bersih (price to earnings ratio/PER) tertentu, turut menjadi perhatian dalam pembahasan tersebut.
Hashim mengingatkan, keluarnya dana asing akibat menurunnya kepercayaan terhadap pasar modal dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Oleh sebab itu, ia meminta pelaku pasar dan pemerintah memperhatikan tata kelola serta kepatuhan terhadap aturan guna menjaga kepercayaan investor dan mengurangi risiko terhadap perekonomian nasional.









