Universitas YARSI memperkuat pengembangan penelitian kedokteran melalui dukungan pendanaan, peningkatan fasilitas laboratorium, dan kolaborasi dengan peneliti. Kampus tersebut mengalokasikan dana riset sekitar Rp6 miliar setiap tahun serta mengembangkan penelitian genomik dan sel punca untuk mendukung kemajuan pelayanan kesehatan.
Selain memperkuat riset, Yayasan YARSI juga merencanakan pembangunan empat rumah sakit pendidikan di Jakarta. Pengembangan fasilitas kesehatan ini diharapkan dapat mendukung pendidikan dokter spesialis sekaligus membantu menjawab kebutuhan tenaga medis di Indonesia.
Investasi Laboratorium dan Pendanaan Penelitian
Rektor Universitas YARSI, Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K), Subsp.I.I., mengatakan penguatan penelitian menjadi bagian penting dari Caturdharma perguruan tinggi. Hal itu disampaikannya saat wisuda sarjana dan pascasarjana di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Dalam dua tahun terakhir, universitas telah menambah peralatan laboratorium kedokteran dengan investasi sekitar Rp10 miliar. Fasilitas penelitian yang dikembangkan mencakup laboratorium genomik, herbal, halal, telomer, sel punca, serta pusat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Universitas juga mendorong dosen melanjutkan pendidikan doktoral di dalam maupun luar negeri. Yayasan YARSI turut membantu publikasi hasil penelitian agar karya akademik memiliki jangkauan lebih luas.
Genomik dan Sel Punca Jadi Fokus Pengembangan
Penelitian genomik menjadi salah satu bidang yang dikembangkan untuk memahami hubungan variasi genetik dengan risiko penyakit, termasuk diabetes, kanker, dan penyakit langka.
Ketua Pembina Yayasan YARSI, Prof. dr. Jurnalis Uddin, PAK, menjelaskan bahwa teknologi next-generation sequencing (NGS) memungkinkan peneliti mempelajari urutan DNA dan mengidentifikasi variasi genetik. Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengembangan personalized medicine, yakni pendekatan pengobatan yang mempertimbangkan karakteristik setiap pasien.
Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penentu risiko penyakit. Riwayat keluarga perlu dipahami bersama faktor lingkungan, gaya hidup, dan kondisi kesehatan lainnya.
YARSI juga mengembangkan pusat penelitian sel punca. Menurut Ratna, pengembangan fasilitas tersebut memerlukan investasi besar dan harus memenuhi persyaratan yang ketat sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Peneliti Didukung Insentif dan Kolaborasi
Untuk memperluas kegiatan penelitian, YARSI membuka peluang pendanaan dari berbagai sumber, termasuk dukungan internasional. Jurnalis menyebut skema insentif bagi peneliti juga dikembangkan, dengan nilai yang dalam skema tertentu dapat mencapai sekitar US$3.500 sesuai ketentuan program.
Dukungan pembiayaan diharapkan memberi ruang bagi peneliti muda untuk mengembangkan keahlian dan menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Empat Rumah Sakit Pendidikan Direncanakan
Yayasan YARSI merencanakan pengembangan empat rumah sakit pendidikan di Jakarta Selatan, Barat, Timur, dan Utara. Saat ini, YARSI telah memiliki rumah sakit di Jakarta Pusat serta menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit mitra.
Universitas YARSI juga telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam sejak awal 2026 dengan pembinaan FKUI dan dukungan rumah sakit mitra. Selanjutnya, kampus menyiapkan program spesialis anak dan bedah, dengan persiapan yang disebut telah mencapai sekitar 75 persen.
Melalui penguatan riset, laboratorium, pendidikan spesialis, dan fasilitas rumah sakit, YARSI menargetkan kontribusi lebih besar bagi pengembangan ilmu kedokteran serta pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia.









