Bisnis

WIFI Ekspansi ke Bisnis Konstruksi Telekomunikasi, Bidik Pendapatan Rp437,69 Miliar pada 2032

WIFI menambah bisnis konstruksi sentral telekomunikasi mulai kuartal IV-2026. Ekspansi ini diproyeksikan mendorong pendapatan hingga Rp437,69 miliar pada 2032.

WIFI Ekspansi ke Bisnis Konstruksi Telekomunikasi, Bidik Pendapatan Rp437,69 Miliar pada 2032
Foto: Dok. WIFI

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge bersiap memperluas kegiatan usahanya ke sektor konstruksi sentral telekomunikasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat bisnis infrastruktur digital sekaligus menangkap peluang dari meningkatnya kebutuhan jaringan dan konektivitas di Indonesia.

Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Rabu (21/10/2026). Jika disetujui, WIFI menargetkan kegiatan usaha baru berdasarkan klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) 42206 itu mulai berjalan pada kuartal IV-2026.

WIFI Bidik Peluang dari Infrastruktur Digital

Manajemen WIFI menilai industri konstruksi telekomunikasi memiliki prospek pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur jaringan. Permintaan tersebut turut didorong oleh perluasan jaringan serat optik, penetrasi internet, serta kebutuhan konektivitas digital di berbagai sektor.

Pasar yang dibidik tidak terbatas pada pembangunan menara telekomunikasi. Ruang lingkupnya juga mencakup berbagai infrastruktur jaringan yang mendukung penyelenggaraan layanan telekomunikasi secara menyeluruh.

Selama ini, WIFI telah menjalankan sejumlah kegiatan usaha, mulai dari periklanan, perdagangan besar peralatan telekomunikasi, layanan telekomunikasi nirkabel, hingga penyewaan, produk digital, dan jaringan optik.

Penambahan bisnis konstruksi diharapkan memperkuat posisi Surge sebagai perusahaan telekomunikasi terintegrasi. Perseroan membidik pelanggan business-to-business (B2B), khususnya perusahaan yang membutuhkan pembangunan jaringan di banyak lokasi atau wilayah dengan kebutuhan konektivitas tinggi.

Segmen yang berpotensi dilayani meliputi kawasan komersial, residensial, industri, pendidikan, pemerintahan, hingga ruang publik.

Ekspansi Membutuhkan Modal Awal Rp6 Miliar

Berdasarkan perhitungan KJPP Syarif, Endang & Rekan, pengembangan lini usaha baru tersebut akan memengaruhi struktur keuangan WIFI. Perseroan menyiapkan pendanaan awal sebesar Rp6 miliar dari kas internal, dengan kebutuhan modal kerja diperkirakan mencapai Rp11,39 miliar pada akhir 2026.

Meski membutuhkan biaya pada tahap awal, ekspansi ini diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap kinerja keuangan dalam jangka menengah hingga panjang. Periode proyeksi yang digunakan mencakup 2026 sampai 2032.

Manajemen memperkirakan pendapatan dari kegiatan usaha baru dapat mencapai Rp437,69 miliar pada 2032. Proyeksi itu didasarkan pada peningkatan volume kontrak proyek, dengan pertumbuhan yang diperkirakan menuju tingkat stabil sebesar 13 persen.

Perseroan juga memperkirakan efisiensi biaya meningkat dari 58,42 persen menjadi 61,16 persen. Peningkatan efisiensi tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan laba bersih, memperkuat ekuitas, dan menambah aset lancar.

Pendapatan WIFI Melonjak pada Semester I-2026

Dari sisi kinerja konsolidasian, WIFI membukukan pendapatan usaha bersih Rp1,57 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut meningkat dibandingkan Rp513 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih perseroan turut naik menjadi Rp331 miliar, dari sebelumnya Rp227 miliar. Total aset WIFI juga bertambah dari Rp15,16 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp20,94 triliun pada semester I-2026.

Pada periode yang sama, liabilitas meningkat menjadi Rp11,93 triliun dari Rp6,5 triliun. Sementara itu, ekuitas tercatat naik menjadi Rp9 triliun, dibandingkan Rp8,5 triliun setahun sebelumnya.

Ekspansi ke konstruksi sentral telekomunikasi membuka peluang diversifikasi pendapatan bagi WIFI. Namun, realisasi proyeksi tersebut akan bergantung pada persetujuan pemegang saham, pelaksanaan proyek, pertumbuhan kontrak, dan kemampuan perseroan menjaga efisiensi operasional.