Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan ekonomi dan keuangan syariah melalui kolaborasi dengan pemerintah, lembaga, pelaku industri, hingga pesantren. Upaya tersebut diwujudkan dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 yang menjadi ruang untuk memperluas kemitraan, meningkatkan pembiayaan, dan memperkuat industri halal nasional.
ISEF 2026 digelar pada 14–18 Oktober di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Hingga malam 17 Oktober, festival ini telah menarik sekitar 93.000 pengunjung, dengan transaksi penjualan produk makanan dan fesyen halal mencapai Rp13,85 miliar. Adapun nilai business matching tercatat sebesar Rp3,16 triliun.
BI Luncurkan Tiga Inisiatif Strategis
Gubernur BI Destry Damayanti menekankan bahwa pengembangan ekonomi syariah membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Sinergi tersebut melibatkan kementerian, lembaga, asosiasi, serta pesantren untuk membangun ekosistem yang lebih kuat.
Dalam penyelenggaraan ISEF tahun ini, BI meluncurkan tiga inisiatif strategis. Ketiganya meliputi Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), pembaruan Zakat Core Principles (ZCP) 2.0, serta program beasiswa internasional bagi mahasiswa asing.
ICoC dirancang untuk meningkatkan integritas dan efisiensi transaksi di pasar keuangan syariah. Sementara itu, pembaruan ZCP 2.0 yang melibatkan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memasukkan aspek manajemen risiko dalam pengukuran penerapan prinsip utama pengelolaan zakat.
Program beasiswa internasional menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang ekonomi dan keuangan syariah.
Transaksi ISEF Capai Triliunan Rupiah
Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro menyebut ISEF bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan sarana untuk mendorong gagasan menjadi kegiatan ekonomi produktif. Menurutnya, potensi ekonomi syariah perlu diwujudkan dalam usaha yang berdaya saing dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Capaian transaksi selama festival memperlihatkan aktivitas bisnis yang terbangun melalui pertemuan pelaku usaha dan mitra strategis. Namun, realisasi kerja sama setelah acara berakhir tetap diperlukan agar manfaatnya berkelanjutan.
Pemerintah juga melihat peluang besar dari pasar produk halal dunia. Belanja masyarakat muslim global diproyeksikan mencapai US$3,56 triliun pada 2029. Kondisi ini membuka kesempatan bagi Indonesia untuk memperluas ekspor, meningkatkan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperbesar akses pembiayaan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan Indonesia mempertahankan posisi keempat dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026. Di dalam negeri, rantai nilai halal tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Keuangan Syariah Berpeluang Dukung Pembangunan
Pengembangan ekonomi syariah juga berkaitan dengan pembiayaan berkelanjutan. Penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 tercatat mencapai US$7,7 miliar di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik hingga Juni 2026.
Instrumen tersebut menjadi salah satu jalur pembiayaan yang dapat mendukung pembangunan sekaligus agenda keberlanjutan. Meski demikian, pendalaman pasar keuangan, peningkatan literasi, dan perluasan inklusi masih dibutuhkan agar akses pembiayaan semakin merata.
Penguatan rantai nilai halal juga penting untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal. Dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha, pelaku UMKM diharapkan mampu memperluas pasar serta bersaing dengan produk dari negara lain.
Transformasi Digital Perluas Jangkauan Ekonomi Syariah
BI turut memanfaatkan teknologi digital untuk mengenalkan ekonomi syariah kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Dalam ISEF 2026, BI menghadirkan kompetisi Video Animasi Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island melalui platform Roblox.
Pendekatan digital tersebut ditujukan untuk membuat pengenalan konsep keuangan syariah lebih interaktif. Selain itu, kolaborasi ISEF dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 diharapkan membantu pelaku industri halal memperluas akses perdagangan dan menjalin kemitraan baru.
Ke depan, keberhasilan pengembangan ekonomi syariah akan bergantung pada kesinambungan kerja sama, realisasi pembiayaan, penguatan industri halal, serta pemanfaatan teknologi. BI bersama pemerintah dan mitra strategis mendorong agar potensi yang muncul dalam ISEF dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang produktif dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.









