Saham

BEI Siapkan 80 Saham HSC Keluar dari IHSG, Mirae Sebut Kebijakan Berpotensi Redam Tekanan Indeks

BEI berencana mengecualikan 80 saham HSC dari perhitungan IHSG. Mirae menilai kebijakan ini berpotensi mengurangi tekanan indeks saham.

BEI Siapkan 80 Saham HSC Keluar dari IHSG, Mirae Sebut Kebijakan Berpotensi Redam Tekanan Indeks
Foto: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan 80 saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi perhatian pelaku pasar. Kebijakan tersebut berpotensi mengubah komposisi bobot indeks, terutama karena sejumlah saham HSC berkapitalisasi besar mengalami koreksi tajam sepanjang 2026.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan kelompok saham tersebut memiliki bobot sekitar 18,4% terhadap IHSG. Meski demikian, pengeluaran saham HSC tidak otomatis membuat indeks menguat karena BEI akan menyesuaikan pembagi indeks agar perubahan komposisi tidak langsung mengubah level IHSG.

Enam Saham HSC Berbobot Besar Terkoreksi

Dalam analisis yang dirilis Selasa (20/10/2026), Mirae menyoroti enam saham HSC yang mengalami penurunan harga signifikan sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2026. Secara keseluruhan, saham-saham tersebut mewakili sekitar 12,3% bobot IHSG.

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memiliki estimasi bobot 3,8% dengan koreksi 6,6%. Sementara itu, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) berbobot 3,4% dan turun 33,9%.

Penurunan lebih dalam terjadi pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang terkoreksi 81,1% dengan bobot 1,4%. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga merosot 81,9% dengan bobot 1,39%.

Dua saham lainnya, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), masing-masing turun 69,8% dan 35,2%. Bobot keduanya diperkirakan sebesar 1,2% dan 1,02%.

Menurut Mirae, kebijakan ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap IHSG apabila saham-saham tersebut kembali melemah. Namun, efek positifnya bergantung pada perbandingan kinerja saham HSC dengan saham yang tetap menjadi konstituen indeks.

Investor Perlu Memperhatikan Penyesuaian Portofolio

Pengecualian saham HSC dapat memicu penyesuaian portofolio oleh investor maupun produk investasi yang mengikuti IHSG. Saham yang dikeluarkan berisiko menghadapi tekanan jual, sedangkan bobot relatif saham yang bertahan dalam indeks dapat meningkat.

Namun, kenaikan bobot relatif tersebut tidak menjamin harga saham akan ikut menguat. Pergerakan harga tetap dipengaruhi permintaan pasar, kinerja emiten, dan keputusan investor.

Daftar 80 Saham HSC dari Berbagai Sektor

Daftar per 20 Oktober 2026 mencakup 80 saham yang tersebar di 11 sektor IDX Industrial Classification (IDX-IC). Sektor keuangan memiliki jumlah terbanyak, yakni 14 saham, disusul barang konsumen primer dengan 12 saham dan energi dengan sembilan saham.

Sektor properti dan real estat mencakup delapan saham, barang baku tujuh saham, sedangkan perindustrian, barang konsumen nonprimer, dan infrastruktur masing-masing enam saham. Sektor kesehatan memiliki lima saham, transportasi dan logistik empat saham, serta teknologi tiga saham.

Daftar tersebut mencakup kode seperti BBHI, BMAS, BYAN, DSSA, BREN, DCII, MORA, SRAJ, MTEL, dan TBIG, bersama saham lain yang masuk klasifikasi HSC.

Status HSC tidak dengan sendirinya menunjukkan pelanggaran oleh emiten. BEI juga belum mengumumkan tanggal efektif penerapan kebijakan tersebut, sehingga investor perlu mengikuti pengumuman resmi sebelum mengambil keputusan berdasarkan perubahan komposisi indeks.