Urgensi dekarbonisasi sektor transportasi, EV jadi solusi

M. Ihsan

11 juta mobil di jalanan Indonesia saat ini menghasilkan lebih dari 35 juta ton emisi CO2, sementara truk mengeluarkan lebih dari 50 juta ton.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana di acara High-Level Closed-Door Ministerial Discussion bagian dari IEA's 9th Global Conference On Energy Efficiency (GCEE) di Nairobi, Kenya. | foto: @esdm
Perubahan iklim dan pemanasan global telah menjadi isu sentral yang menuntut perhatian global. Dalam rangka mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dekarbonisasi sektor transportasi menjadi salah satu langkah krusial dan penting keberlanjutan dunia. 

Transportasi merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dioksida (CO2) akibat penggunaan bahan bakar fosil. Dengan demikian, transisi menuju Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik menjadi solusi dalam upaya dekarbonisasi ini.

Sektor transportasi masih dinilai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Untuk itu, upaya dekarbonisasi di sektor transportasi sangat penting mengingat memiliki dampak besar terhadap pembakaran bahan bakar fosil. 

Melansir dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (23/5/2024) mengungkapkan di Indonesia dari 11 juta kendaraan yang mengaspal di jalan menghasilkan lebih dari 35 juta ton emisi CO2, sementara truk mengeluarkan lebih dari 50 juta ton.
"Transportasi global menyumbang lebih dari sepertiga emisi CO2 dari sektor pengguna akhir, dan transportasi jalan raya saja menyumbang sekitar seperenam emisi global. Dalam hal ini, sistem transportasi yang berkelanjutan dan bersih sangat penting untuk memitigasi dampak lingkungan yang signifikan dari sektor transportasi," tegas Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana di acara High-Level Closed-Door Ministerial Discussion bagian dari IEA's 9th Global Conference On Energy Efficiency (GCEE) di Nairobi, Kenya, Rabu (22/5/2024) waktu setempat.
Kondisi yang sama juga dialami Indonesia. Selain sebagai pengonsumsi sepertiga energi final, sektor transportasi juag menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.

"Di Indonesia sektor transportasi menyumbang sekitar sepertiga konsumsi energi final dan sekitar 40% konsumsi energi final. 11 juta mobil di jalanan Indonesia saat ini menghasilkan lebih dari 35 juta ton emisi CO2, sementara truk mengeluarkan lebih dari 50 juta ton," sambung Dadan.

Mengingat perkiraan pertumbuhan armada kendaraan di tahun-tahun mendatang akibat pembangunan ekonomi, pencapaian dekarbonisasi di sektor transportasi sangat penting untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. 

Selain itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memastikan pertumbuhan sektor transportasi tidak akan membahayakan kualitas hidup dan kesehatan warganya.

"Sebagai bagian dari upaya ekstensifnya untuk mengurangi emisi GRK dan polutan udara, Indonesia secara aktif mempromosikan penggunaan kendaraan listrik. Transisi ke kendaraan listrik dipandang sebagai strategi utama untuk melakukan dekarbonisasi transportasi jalan raya, yang menawarkan manfaat ganda yaitu mengurangi emisi sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan," jelas Dadan.

Selain manfaat ganda tersebut, elektrifikasi pada sektor transportasi dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungannya pada impor bahan bakar fosil, yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mengurangi impor akan meningkatkan ketahanan energi dan hal ini merupakan prioritas utama pemerintah.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Konten berbasis data.
Kategori konten paling banyak dibaca.


News Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks