![]() |
| cover | topik.id |
Perkembangan kecerdasan buatan, artificial intelligence (AI) di Tiongkok semakin masif, merambah berbagai sektor mulai dari layanan digital hingga manufaktur dan transportasi. Teknologi ini mendorong efisiensi dan produktivitas, namun sekaligus memunculkan kekhawatiran luas tentang masa depan lapangan kerja.
Pekerja dari berbagai latar belakang mulai merasakan tekanan perubahan tersebut. Operator pabrik, desainer, hingga penerjemah menghadapi risiko tergeser oleh sistem otomatis yang mampu bekerja lebih cepat dan murah.
Meski demikian, para ekonom menilai AI bukanlah akhir dari dunia kerja. Seperti revolusi teknologi sebelumnya, AI dipandang sebagai kekuatan transformasi yang akan merombak struktur pasar tenaga kerja dan melahirkan profesi baru.
Pemerintah Tiongkok menyadari potensi gangguan jangka pendek akibat AI. Karena itu, kebijakan publik diarahkan untuk mengendalikan dampak sosial sembari menyiapkan tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat.
Kekhawatiran bahwa mesin akan menggantikan manusia bukan hal baru. Dari mesin uap hingga otomatisasi industri, setiap lompatan teknologi besar selalu diiringi kecemasan serupa, namun pada akhirnya juga membuka peluang baru.
Analis DRCnet, Wu Jie, menilai AI justru meningkatkan produktivitas dan menciptakan industri baru. Meski beberapa peran tradisional memudar, lapangan kerja masa depan akan didefinisikan ulang dengan keterampilan yang berbeda.
"Meskipun beberapa peran tradisional secara bertahap memudar, AI meningkatkan produktivitas dan membuka ruang bagi industri baru, menciptakan peluang baru dan mendefinisikan kembali lapangan kerja di masa depan," kata Wu Jie, seperti dilansir topik.id, Rabu (14/1/2026).
Pedoman inisiatif AI Plus.
![]() |
| Pameran Penerbitan Digital Internasional Tiongkok ke-15 di Zhengzhou, Provinsi Henan, Tiongkok tengah | @gov.cn |
Sementara itu, menurut laporan Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok (SCIO), pada Agustus 2025, Dewan Negara meluncurkan pedoman inisiatif “AI Plus”. Kebijakan ini mendorong pemanfaatan AI secara luas untuk menciptakan pekerjaan baru sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan yang sudah ada.
Laporan Forum Ekonomi Dunia memproyeksikan bahwa hingga 2030, AI dan teknologi data akan menciptakan sekitar 11 juta lapangan kerja global. Jumlah tersebut diperkirakan melampaui 9 juta pekerjaan yang berpotensi hilang.
"Teknologi AI dan pengolahan data akan menciptakan sekitar 11 juta lapangan kerja di seluruh dunia, lebih dari cukup untuk mengimbangi sekitar 9 juta lapangan kerja yang diperkirakan akan hilang. Perlu dicatat, dinamika ini sudah terlihat di Tiongkok," tulis SCIO dalam laporan resminya.
Di Tiongkok, dinamika itu sudah terlihat. Industri inti AI mendekati nilai 600 miliar yuan, didorong oleh kemajuan model bahasa besar serta integrasi AI ke sektor manufaktur, jasa, dan bioteknologi.
Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial mencatat 72 jenis pekerjaan baru dalam lima tahun terakhir. Lebih dari 20 di antaranya terkait langsung dengan AI dan berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Sektor kendaraan otonom menjadi contoh konkret transformasi tersebut. Alih-alih sekadar menggantikan pengemudi, perusahaan menciptakan peran baru yang menggabungkan pengalaman operasional dengan keterampilan digital.
Perusahaan robotaxi kini merekrut pengawas keselamatan, penguji kendaraan, dan insinyur algoritma. Banyak posisi ini justru diprioritaskan bagi mantan pengemudi transportasi konvensional.
Salah satunya Zhang Chao, mantan manajer penyewaan mobil yang kini menjadi operator keselamatan jarak jauh taksi robot di Beijing. Ia memantau kendaraan otonom secara real-time dan melakukan intervensi saat diperlukan.
"Peran ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang sistem dan perangkat lunak kendaraan, serta konsentrasi dan kesabaran," kata Zhang.
Transformasi serupa terjadi di sektor manufaktur. Pekerja pabrik beralih dari tugas fisik ke peran pengelolaan sistem, pengujian, dan pengoperasian kendaraan cerdas yang terhubung secara digital.
Untuk menopang perubahan tersebut, pemerintah mempercepat investasi pada manusia. Program peningkatan keterampilan nasional hingga 2027 menargetkan pelatihan bersubsidi bagi lebih dari 30 juta orang, sembari memperkuat pendidikan AI sejak sekolah dasar.
.png.webp)
.png.webp)