Investasi besar, Google dan BlackRock lirik energi hijau di Asia Pasifik

Google mengumumkan kemitraan dengan bisnis Infrastruktur Iklim BlackRock.

Ardi Nugraha
A- A+
Panel tenaga surya. | cover: topik.id
Di tengah krisis iklim global, peralihan menuju energi hijau menjadi semakin mendesak. Dua raksasa dunia, Google dan BlackRock, baru-baru ini mengumumkan komitmen mereka untuk mempercepat transisi energi hijau di wilayah Asia Pasifik. 

Melalui investasi besar-besaran, kedua perusahaan ini berupaya memperkuat infrastruktur energi terbarukan dan mendukung proyek-proyek berkelanjutan yang inovatif.

Kepala Global Energi Pusat Data Google, Amanda Peterson Corio menjelaskan jalan untuk mencapai tujuan-tujuan ini sangatlah menantang dan memerlukan upaya komersial dan perubahan sistem energi yang lebih luas.
"Kami memiliki tujuan yang berani untuk mencapai emisi nol bersih di seluruh operasi dan rantai nilai kami pada tahun 2030, didukung oleh tujuan untuk menggunakan energi bebas karbon 24/7 di setiap jaringan listrik tempat kami beroperasi. Jalan untuk mencapai tujuan-tujuan ini sangatlah menantang dan memerlukan upaya komersial dan perubahan sistem energi yang lebih luas. Hal ini termasuk menciptakan peluang energi baru yang ramah lingkungan di wilayah-wilayah yang masih dalam tahap awal perjalanan dekarbonisasi dan memiliki jaringan listrik yang kekurangan pasokan energi bebas karbon," terang Amanda di laman blog resmi Google, dikutip (1/7/2024).
Google juga mengumumkan kemitraan dengan bisnis Infrastruktur Iklim BlackRock yang akan membantu mendukung pengembangan jaringan pipa berkapasitas surya baru sebesar 1 gigawatt (GW) di Taiwan.

"Hari ini, kami mengumumkan kemitraan dengan bisnis Infrastruktur Iklim BlackRock yang akan membantu mendukung pengembangan jaringan pipa berkapasitas surya baru sebesar 1 gigawatt (GW) di Taiwan, memajukan energi bersih pada jaringan listrik lokal dan tujuan bebas karbon 24/7 kami sendiri. Sebagai bagian dari kemitraan kami, kami melakukan investasi modal di New Green Power (NGP), pengembang surya Taiwan dan perusahaan portofolio BlackRock, untuk memfasilitasi pembangunan jaringan pipa surya berskala besar miliknya," jelasnya.

Banyak negara di Asia Pasifik menghadapi tantangan unik dalam menambah energi baru bebas karbon, termasuk keterbatasan lahan, rendahnya ketersediaan sumber daya angin dan surya yang dapat diperluas secara komersial, dan tingginya biaya konstruksi. 

Lanjutnya, oleh karena itu, bahan bakar fosil, termasuk batu bara dan gas alam yang diimpor, menghasilkan hampir 85% listrik di Taiwan . 

"Untuk membantu mengatasi hambatan-hambatan ini, perusahaan dapat memainkan peran penting dalam menemukan strategi baru untuk meningkatkan pasokan sumber energi terbarukan yang tersedia dan mempromosikan teknologi baru yang memungkinkan dekarbonisasi penuh pada sistem kelistrikan regional," jelasnya kembali.

Besaran investasi Google dan BlackRock di Asia Pasifik terkai energi hijau atau ramah lingkungan tidak dipublikasikan.

Namun investasi besar itu tunduk pada persetujuan regulasi, akan berfungsi sebagai modal pengembangan menuju jaringan proyek surya baru berkapasitas 1 GW.

"Investasi kami di NGP, yang tunduk pada persetujuan regulasi, akan berfungsi sebagai modal pengembangan menuju jaringan proyek surya baru berkapasitas 1 GW, yang akan mengkatalisasi pembiayaan ekuitas dan utang yang penting untuk proyek-proyek tersebut. Kami berharap dapat memperoleh hingga 300 MW energi surya dari jaringan ini melalui perjanjian pembelian daya (PPA) dan sertifikat atribut energi terkait (Sertifikat Energi Terbarukan Taiwan atau T-REC) untuk membantu memenuhi permintaan listrik dari kampus pusat data, wilayah cloud , dan operasi kantor kami di Taiwan," jelasnya.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Berbasis data.
Paling diminati.
Bisnis Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks