Topik.id — Federal Reserve atau The Fed kembali memperketat kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September 2026 tersebut diambil ketika perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan aktivitas yang cukup kuat.
Di sisi lain, bank sentral AS masih menghadapi tekanan inflasi yang belum kembali ke sasaran 2%. The Fed juga menilai ketidakpastian ekonomi tetap tinggi, antara lain akibat perkembangan geopolitik. Keputusan kenaikan bunga tersebut disetujui secara bulat oleh 12 anggota FOMC.
Ekonomi AS Masih Menunjukkan Ketahanan
The Fed menilai aktivitas ekonomi AS berkembang dengan laju solid. Pengeluaran domestik masih tangguh, pertumbuhan produktivitas tetap kuat, sementara investasi modal berada dalam kondisi kokoh.
Pasar tenaga kerja juga menjadi salah satu pertimbangan. The Fed menyebut pertambahan lapangan kerja masih sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran hanya mengalami perubahan terbatas.
Gambaran tersebut tercermin dalam pembaruan Summary of Economic Projections (SEP). Median proyeksi pertumbuhan GDP riil AS dinaikkan menjadi 2,3% pada 2026 dari 2,2% dalam proyeksi Juni. Untuk 2027, pertumbuhan diperkirakan mencapai 2,4%, kemudian melambat menjadi 2,2% pada 2028 dan 2,1% pada 2029.
Inflasi Masih Menjadi Fokus Kebijakan
Meski pertumbuhan ekonomi relatif kuat, inflasi masih menjadi persoalan utama bagi bank sentral AS. The Fed menyatakan inflasi tetap tinggi dan kenaikan bunga diarahkan untuk membantu mengembalikan tekanan harga menuju target 2%.
Dalam SEP September, median inflasi berdasarkan indeks personal consumption expenditures (PCE) diperkirakan mencapai 3,7% pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi Juni sebesar 3,6%.
Untuk 2027, inflasi PCE diperkirakan turun menjadi 2,3%, kemudian 2,1% pada 2028 dan mencapai target 2% pada 2029.
Proyeksi Suku Bunga Berubah
Kenaikan bunga September juga diikuti perubahan proyeksi jalur kebijakan. Median federal funds rate pada akhir 2026 diperkirakan berada di 4,1%, lebih tinggi dari proyeksi Juni sebesar 3,8%.
Untuk 2027, median proyeksi juga berada di 4,1%, sebelum turun menjadi 3,9% pada 2028 dan 3,6% pada 2029. Namun, angka tersebut merupakan penilaian masing-masing peserta FOMC mengenai kebijakan yang dianggap sesuai dengan kondisi ekonomi, bukan janji mengenai keputusan bunga di masa depan.
Risiko Geopolitik Tambah Ketidakpastian
Selain inflasi dan pertumbuhan, perkembangan geopolitik menjadi faktor yang membuat prospek ekonomi sulit dipastikan. The Fed menilai ketidakpastian di sekitar proyeksi ekonomi masih cukup besar.
Dalam kondisi tersebut, jalur suku bunga dapat berubah apabila data ekonomi berkembang di luar perkiraan. Karena itu, arah kebijakan moneter berikutnya akan tetap bergantung pada perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, aktivitas ekonomi, serta risiko yang muncul.
Dengan kondisi tersebut, The Fed masih menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Proyeksi terbaru menunjukkan inflasi diperkirakan turun secara bertahap, sementara suku bunga masih berada pada level relatif tinggi hingga beberapa tahun ke depan.
