— Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pergerakan yang fluktuatif pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Dinamika ini terjadi seiring langkah pasar dalam menyesuaikan diri dengan keputusan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (16/9/2026), mata uang Garuda di pasar spot ditutup melemah tipis 0,01% atau terpangkas 2,00 poin ke posisi Rp 17.696 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi rupiah berada di level Rp 17.712 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,14% apabila dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.687 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan Rabu (16/9/2026), pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang memilih untuk menahan diri atau wait and see menjelang keputusan suku bunga AS. Tekanan turut datang dari penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke kisaran 99,7 serta tingginya permintaan valuta asing dari korporasi domestik. Kendati demikian, pelemahan lebih lanjut berhasil diredam oleh konsistensi intervensi Bank Indonesia di pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Faktor Eksternal dan Proyeksi Kebijakan The Fed

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengutarakan bahwa arah mata uang Garuda pada esok hari akan sangat dipengaruhi oleh rilis dot plot serta proyeksi ekonomi Amerika Serikat dari bank sentral.

Fokus utama pasar eksternal tertuju pada nada komunikasi yang disampaikan The Fed, apakah cenderung hawkish atau dovish, serta bagaimana respons imbal hasil atau yield US Treasury terhadap pengumuman tersebut.

“Jika sinyal bank sentral AS ternyata lebih ketat dari ekspektasi, tekanan lanjutan pada Indeks Dolar (DXY) akan berlanjut,” ujar Rahma kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Ketahanan Fundamental Domestik

Meskipun demikian, stabilitas rupiah masih ditopang oleh kekuatan fundamental ekonomi dalam negeri. Upaya stabilisasi yang dijalankan Bank Indonesia melalui kebijakan triple intervention serta instrumen pro-pasar seperti SRBI dan SVBI maupun SUVBI diandalkan mampu menjaga tingkat volatilitas kurs tetap terkendali.

Selain itu, surplus pada neraca perdagangan nasional turut berfungsi sebagai penahan agar ruang pelemahan nilai tukar tidak semakin melebar.

Kendati demikian, fase penyesuaian awal pada sesi perdagangan Kamis pagi diprediksi tetap membuat rupiah bergerak dinamis sembari menantikan kepastian arah kebijakan dari bank sentral AS.

“Esok hari, rupiah berpotensi bergerak sangat volatil di awal sesi perdagangan pagi hari seiring penyesuaian pasar terhadap hasil akhir rapat FOMC,” ungkap Rahma.

Mempertimbangkan berbagai kalkulasi sentimen tersebut, Rahma memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (17/9/2026) akan berada dalam rentang konsolidasi yang fluktuatif di kisaran Rp 17.650 sampai Rp 17.800 per dolar AS. Adapun area pantauan teknikal terdekat dipetakan pada level Rp 17.680 hingga Rp 17.750 per dolar AS.

Apabila The Fed meluncurkan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif dari perkiraan, rupiah menghadapi risiko menguji batas atas pelemahan di dekat level Rp 17.780 sampai Rp 17.850 per dolar AS. Sebaliknya, jika hasil rapat tersebut sudah sepenuhnya dicerna pasar atau priced in, langkah stabilisasi BI berpotensi menjaga posisi rupiah pada kisaran bawah antara Rp 17.650 hingga Rp 17.700 per dolar AS.