— Pasar emas global mencatatkan pemulihan setelah mengalami tekanan dan merosot selama dua sesi perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar kini tengah mencermati dinamika penurunan harga minyak mentah di tengah penantian pengumuman kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, pada hari ini.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Rabu (16/9) pukul 15.21 WIB, nilai tukar emas di pasar spot tercatat menguat 0,95% ke level US$ 4.332,85 per troi ons.

Koreksi yang terjadi pada komoditas minyak mentah turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi, menyusul aksi ambil untung setelah sempat terdorong oleh isu gangguan rantai pasok.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap memperhitungkan probabilitas sebesar 93% bagi The Fed untuk melakukan penyesuaian suku bunga menyusul data inflasi periode sebelumnya yang melampaui proyeksi. Kebijakan suku bunga yang ketat umumnya memberikan sentimen kurang menguntungkan bagi aset lindung nilai seperti emas yang tidak menawarkan imbal hasil tetap.

Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun terpantau sedikit melunak usai sempat menyentuh ambang batas 5% yang merupakan titik tertinggi dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Penurunan tipis juga dialami oleh surat berharga tenor dua tahun yang sangat peka terhadap arah kebijakan jangka pendek, sehingga situasi ini turut meringankan beban tekanan terhadap komoditas emas.

Para investor saat ini menantikan langkah bank sentral yang diproyeksikan bakal menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak tahun 2023. Apabila arah kebijakan tersebut berbeda atau jika pimpinan bank sentral tidak memberikan kepastian terkait langkah pengetatan lanjutan, para pelaku pasar kemungkinan besar akan meminta kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi pada obligasi jangka panjang demi mengamankan portofolio dari ancaman inflasi.

Christopher Wong selaku analis strategi dari Oversea-Chinese Banking Corp., mengemukakan pandangannya bahwa fokus utama pasar saat ini bukan lagi pada kepastian kenaikan suku bunga, melainkan arah kebijakan lanjutan setelah momentum tersebut.

“Jik The Fed terus membuka pintu untuk pengetatan lebih lanjut, emas mungkin akan lebih rentan, dan bergerak lebih rendah menuju US$ 4.000 per troi ons jika level support kunci US$ 4.250 ditembus,” prediksi Wong mengutip Bloomberg, hari ini (16/9).

Sepanjang bulan September ini, komoditas logam mulia tersebut telah mengalami koreksi sekitar 3% setelah sempat berada di atas kisaran US$ 4.700 per troi ons pada penutupan bulan Agustus. Meskipun demikian, sebagian besar investor masih menaruh keyakinan bahwa emas batangan berpotensi kembali mencatatkan tren positif seiring fungsinya yang diandalkan sebagai instrumen pelindung nilai portofolio.