— Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada awal perdagangan Kamis, 17 September 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul setelah keputusan terbaru bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, yang menaikkan suku bunga acuannya.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,17% ke level Rp17.705 per dolar AS. Pergerakan ini berbalik dari perdagangan sehari sebelumnya ketika rupiah masih mencatat apresiasi tipis 0,03% dan ditutup pada Rp17.675 per dolar AS.

Dolar AS Menguat Setelah Keputusan The Fed

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor eksternal yang menekan rupiah pada perdagangan pagi ini. Indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama tercatat naik 0,05% ke posisi 100,315 pada pukul 09.00 WIB.

Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan DXY pada sesi sebelumnya yang mencapai 0,64%. Pergerakan ini menunjukkan respons pasar terhadap perubahan arah kebijakan moneter AS setelah The Fed kembali menaikkan suku bunga.

The Fed pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September memutuskan menaikkan target suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut disepakati secara bulat oleh 12 anggota FOMC.

Suku Bunga AS Naik Untuk Redam Inflasi

Kebijakan tersebut menjadi kenaikan pertama The Fed sejak Juli 2023. Bank sentral AS menyatakan inflasi masih berada pada level tinggi sehingga kebijakan moneter perlu diarahkan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2%.

Dalam pernyataan resminya, The Fed juga mencatat aktivitas ekonomi masih berkembang dengan solid, sementara belanja domestik tetap bertahan dan pertumbuhan produktivitas serta investasi modal menunjukkan kekuatan.

Pasar juga mencermati kemungkinan arah kebijakan berikutnya. Proyeksi terbaru FOMC menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai jalur suku bunga pada periode mendatang.

Inflasi AS Masih Menjadi Perhatian

Tekanan inflasi menjadi salah satu alasan utama di balik keputusan tersebut. Kondisi ini membuat kebijakan suku bunga AS kembali menjadi perhatian pasar keuangan global, termasuk negara-negara berkembang yang mata uangnya sensitif terhadap pergerakan dolar.

Kenaikan imbal hasil aset berdenominasi dolar dapat memengaruhi aliran dana global. Ketika daya tarik aset AS meningkat, ruang penguatan mata uang negara berkembang dapat menjadi lebih terbatas.

Rupiah Hadapi Sentimen Eksternal

Bagi rupiah, keputusan The Fed menjadi salah satu sentimen penting yang akan memengaruhi perdagangan valuta asing dalam jangka pendek. Penguatan dolar di pasar global dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah setelah mata uang domestik sebelumnya bergerak relatif terbatas.

Pergerakan selanjutnya akan turut bergantung pada respons pasar terhadap komunikasi The Fed dan perkembangan data ekonomi AS. Dari sisi domestik, pelaku pasar juga akan mencermati kebijakan Bank Indonesia serta kondisi arus modal untuk melihat ruang pergerakan rupiah berikutnya.