— Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 hadir dengan sejumlah perubahan yang perlu dipahami siswa sebelum mengikuti asesmen. Penyesuaian tidak hanya menyangkut teknis pelaksanaan, tetapi juga sistem penilaian, cakupan materi, bentuk soal, hingga pemilihan mata pelajaran bagi peserta jenjang SMA dan sederajat.

Perubahan tersebut membuat persiapan TKA tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan hafalan materi. Siswa perlu memahami pola soal, mengatur strategi belajar, menjaga kondisi fisik, serta mempertimbangkan arah studi lanjutan ketika menentukan mata pelajaran pilihan yang akan diujikan.

Jadwal TKA 2026 Dibagi Menjadi Empat Hari

Salah satu perubahan yang menjadi perhatian adalah pembagian pelaksanaan ujian berdasarkan mata pelajaran. TKA utama berlangsung selama empat hari sehingga peserta tidak mengerjakan seluruh mata pelajaran dalam satu rangkaian ujian yang padat.

Hari pertama digunakan untuk Bahasa Indonesia dan Survei Karakter. Selanjutnya, Bahasa Inggris serta Survei Lingkungan Belajar diberikan pada hari kedua. Matematika menjadi materi ujian pada hari ketiga, sedangkan hari keempat diperuntukkan bagi dua mata pelajaran pilihan yang telah ditentukan peserta.

Pembagian tersebut membuat siswa memiliki waktu yang lebih terfokus untuk menghadapi setiap kelompok materi. Namun, peserta tetap harus menjaga konsistensi kondisi fisik dan konsentrasi karena asesmen berlangsung dalam beberapa hari.

Materi TKA Tidak Mencakup Seluruh Kurikulum

Aturan TKA 2026 juga menetapkan batas cakupan materi yang diujikan. Materi tidak diambil dari seluruh pembelajaran hingga akhir kelas XII, melainkan mencakup materi dari kelas X sampai pertengahan semester lima.

Pembatasan tersebut membuat siswa dapat menyusun prioritas belajar berdasarkan materi yang masuk dalam ruang lingkup asesmen. Dengan demikian, persiapan tidak harus diarahkan pada seluruh materi yang pernah dipelajari selama sekolah.

Siswa juga perlu memahami kerangka dan kisi-kisi resmi yang menjadi acuan. Latihan soal sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengingat, tetapi juga pemahaman konsep, analisis, literasi, dan penalaran.

Skor TKA Menggunakan Rentang 200 Hingga 800

Perubahan lain terdapat pada mekanisme penilaian. TKA tidak lagi menggunakan pola nilai konvensional dengan rentang 0 hingga 100. Peserta akan memperoleh skor dalam skala 200 sampai 800 dengan hasil yang dilaporkan hingga dua angka di belakang koma.

Selain skor numerik, hasil asesmen juga dipetakan ke dalam kategori Kurang, Memadai, dan Baik. Tersedia pula kategori Istimewa bagi peserta yang memenuhi ketentuan skor minimal 725,00 pada setiap mata pelajaran yang diujikan.

Angka 725,00 tersebut merupakan ambang untuk kategori Istimewa, bukan nilai maksimal. Skor tertinggi yang dapat diperoleh peserta tetap berada pada angka 800.

Pilihan Mata Pelajaran Perlu Disesuaikan

Peserta SMA juga menghadapi keputusan penting ketika memilih dua mata pelajaran pilihan. Pilihan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan rencana studi karena hasil TKA dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam seleksi perguruan tinggi.

Misalnya, siswa yang mengarah ke bidang kesehatan perlu mempertimbangkan mata pelajaran yang relevan dengan program studi tujuan. Begitu pula calon mahasiswa yang berminat pada bidang teknik, ekonomi, hukum, maupun bidang lainnya perlu memperhatikan keterkaitan antara mata pelajaran pilihan dan jurusan yang dituju.

Karena itu, keputusan memilih mata pelajaran sebaiknya tidak hanya berdasarkan anggapan bahwa suatu pelajaran lebih mudah. Siswa perlu mempertimbangkan tujuan pendidikan setelah lulus SMA.

Bentuk Soal Mendorong Kemampuan Analisis

TKA 2026 menggunakan beberapa bentuk soal, termasuk Pilihan Ganda Sederhana, Multiple Choice Multiple Answers (MCMA), dan Pilihan Ganda Kompleks Kategori.

Variasi tersebut membuat peserta perlu membaca soal secara teliti sebelum menentukan jawaban. Pada tipe MCMA, misalnya, lebih dari satu pilihan dapat menjadi jawaban benar sehingga siswa tidak cukup mengandalkan pola pengerjaan pilihan ganda biasa.

Karakter soal tersebut menuntut kemampuan memahami informasi, membaca data, menarik kesimpulan, dan menerapkan konsep. Latihan secara rutin dapat membantu siswa beradaptasi dengan model pengerjaan yang digunakan.

SHTKA Menjadi Bagian Dalam Seleksi Pendidikan Tinggi

Setelah mengikuti TKA, siswa akan memperoleh Sertifikat Hasil TKA atau SHTKA. Dokumen tersebut memiliki fungsi penting dalam ekosistem seleksi masuk perguruan tinggi karena dapat menjadi salah satu sumber informasi mengenai kemampuan akademik peserta.

Nilai TKA juga dapat digunakan bersama nilai rapor untuk memberikan gambaran capaian akademik siswa. Hal ini menjadi relevan karena standar pemberian nilai antarsekolah dapat berbeda.

Dengan perubahan tersebut, siswa perlu melihat TKA sebagai asesmen yang membutuhkan persiapan berkelanjutan. Belajar secara bertahap, memahami karakter soal, menentukan mata pelajaran pilihan dengan matang, serta mengikuti simulasi menjadi bagian penting agar peserta lebih siap menghadapi pelaksanaan ujian.