Ekonomi

BI Waspadai Potensi Capital Outflow, Cadev RI Sentuh US$ 146,3 Miliar

Bank Indonesia memperkirakan tekanan arus modal keluar masih berlanjut akibat sentimen global. Cadangan devisa nasional dipastikan aman di US$ 146,3 miliar.

BI Waspadai Potensi Capital Outflow, Cadev RI Sentuh US$ 146,3 Miliar
Gedung Bank Indonesia (Sumber: Setkab)

Bank Indonesia memproyeksikan tekanan arus modal keluar dari portofolio investasi domestik masih berpotensi berlanjut ke depan. Situasi ini dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global yang turut mengerek penguatan dolar Amerika Serikat serta menekan berbagai pasar keuangan di negara-negara berkembang.

Dinamika global tersebut menjadi salah satu tantangan bagi stabilitas ekonomi nasional menjelang dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengemukakan bahwa dinamika persepsi investor global terhadap aset berisiko berdampak langsung pada pergerakan dana di dalam negeri.

“Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,” ujar Erwin dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026).

Ketahanan Rupiah dan Posisi Cadangan Devisa (Cadev)

Kendati harus menghadapi gelombang tekanan dari faktor eksternal, bank sentral menilai tingkat daya tahan nilai tukar rupiah masih berada dalam batas yang relatif terjaga. Depresiasi mata uang Garuda tercatat terbatas sebesar 0,28% secara quarter-to-date, yang dinilai sejalan dengan pergerakan mata uang regional di Asia.

Ketahanan tersebut turut ditopang oleh posisi cadangan devisa (cadev) nasional yang berada pada level sangat memadai. Hingga akhir September 2026, total cadangan devisa tercatat mencapai US$ 146,3 miliar. Jumlah ini dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Langkah Antisipasi Melalui Bauran Intervensi

Guna meredam gejolak serta menjaga keseimbangan di pasar uang domestik, Bank Indonesia secara konsisten mengoptimalkan strategi triple intervention. Kebijakan ini mencakup intervensi di pasar off-shore melalui transaksi Non-Deliverable Forward, intervensi pasar domestik lewat transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward, serta stabilisasi pasar Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Selain itu, otoritas moneter terus memantau kecukupan likuiditas perbankan serta mengelola struktur suku bunga di pasar uang antarbank secara terukur.