Topik.id — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan peringatan terkait laju inflasi tahunan (year on year/yoy) pada September 2026 yang mengalami kenaikan ke level 3,28 persen. Posisi tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 3,19 persen dan kini kian mendekati batas maksimal target pemerintah.
“Dan ini sudah mendekati titik yang penting bagi kita, yaitu threshold tertinggi yang jadi target pemerintah adalah 3,5%,” ujar Tito saat memimpin rapat koordinasi pengendalian inflasi tahun 2026 yang berlangsung di Gedung C Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, pada Senin (12/10/2026).
Lebih lanjut, Tito menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk meredam laju kenaikan harga agar tidak sampai menembus ambang batas 3,5 persen. Potensi lonjakan tersebut dinilai bakal memberikan hantaman telak bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya desil 1 dan 2.
“Masyarakat yang termiskin 20% hidupnya harian, kenaikan komoditas sekian ribu rupiah saja itu sudah sangat berpengaruh bagi mereka. Kalau kelas menengah mungkin tidak belum terasa,” terangnya.
Berdasarkan catatan bulanan, tekanan inflasi juga tercatat merangkak naik dengan kelompok makanan, minuman, serta tembakau sebagai kontributor terbesar yang menyumbang 0,88 persen. Sejumlah komoditas yang menjadi motor penggerak kenaikan ini meliputi beras, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga aneka cabai.
“Ini penyumbang yang perlu kita waspadai jangan sampai menembus threshold 3,5%. Nah, kalau kita lihat angka tadi, ini data-data Pak Mentan untuk data di mana kenaikan daging ayamnya dan telurnya serta berasnya,” ungkap Tito.
“Kalau cabai kita enggak begitu khawatir karena bukan komoditas utama. Tapi kalau sudah daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras itu kita perlu waspadai betul,” tambahnya.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan sempat menyampaikan pandangan berbeda bahwa tingkat inflasi 3,28 persen secara tahunan pada September 2026 tersebut masih aman dan belum menekan daya beli masyarakat secara berlebihan. Angka ini dinilai masih berada dalam koridor sasaran yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) di kisaran 2,5%±1%.
“Kalau inflasi itu masih di dalam target range artinya dia itu belum terlalu berdampak kepada daya beli. Belum terlalu berdampak pada decision making orang di dalam belanja karena masih terjaga,” ucap Juda dalam kesempatan Media Gathering Kementerian Keuangan yang diadakan di Hotel Rancamaya, Bogor.
Juda menambahkan, keberadaan inflasi di dalam koridor target juga merefleksikan aktivitas perekonomian yang tetap berjalan normal tanpa mengganggu keputusan masyarakat dalam hal konsumsi maupun investasi.
“Jadi dia gak masuk di dalam faktor mengambil keputusan dia mau investasi atau tidak mau belanja atau tidak. Mau konsumsi atau tidak itu inflasi yang ideal yang menjadi target sekarang ini 2,5%±1%,” tutupnya.


