Topik.id — Garibaldi Thohir atau yang akrab disapa Boy Thohir memberikan pandangannya mengenai fundamental PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Pria yang tercatat memegang 1.054.287.487 atau 0,10 persen saham perseroan per 31 Desember 2025 tersebut membagikan sejumlah catatan penting sebagai pelajaran berharga.
Bos Adaro Group ini menceritakan awal ketertarikannya pada GOTO karena kemampuan perusahaan teknologi tersebut dalam menciptakan jutaan lapangan kerja. Menurut Boy, pencapaian tersebut sangat luar biasa jika dibandingkan dengan korporasi besar lain yang telah beroperasi puluhan tahun.
“Nah, cuma memang sebagai lesson learned, menurut saya, ada satu fundamental. Saya nggak tahu yang lain bisa setuju bisa nggak, ada satu fundamental things. Karena mereka (GOTO) ini kan menjual mimpi dengan burning money karena market share,” ungkap Boy dalam siniar Overpost yang dipandu Leon Hartono pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Selain strategi bakar uang demi pangsa pasar, Boy juga menyoroti mentalitas pengelolaan modal di masa lalu yang dinilainya terlalu mudah mendapatkan pendanaan lewat penerbitan berbagai seri saham. “Menurut saya, karena apa-apa itu terlalu mudah, ya, kurang duit tinggal minta,” tutur Boy.
Kendati investasi awalnya di GOTO belum memberikan keuntungan, pemilik nama lengkap Garibaldi Thohir ini mengaku belum memiliki rencana untuk keluar dari kepemilikan saham tersebut karena besarnya potensi kerugian jika harus merealisasikannya saat ini.
Dengan asumsi pembelian awal mengacu pada harga penawaran umum perdana di level Rp338 per lembar, nilai dana yang digelontorkan mencapai Rp356,35 miliar. Mengingat posisi harga saham GOTO berada di kisaran Rp27 per unit, kerugian yang belum terealisasi tercatat menyentuh angka Rp327,88 miliar.
“Jadi, ya, sudah saya diemin. Nanti kita lihat mau kapanlah istilahnya, sudah salah, ya salah. Dalam hidup kadang untung, kadang rugi. Tapi per hari ini, saya masih kagum dengan GOTO bagaimana anak-anak muda bisa menciptakan sesuatu dibandingkan Astra yang sudah puluhan tahun pegawainya 200-250 ribu,” beber Boy.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi merupakan sebuah keniscayaan bagi masa depan, meski proses pembelajaran bisnis tidak bisa dilalui secara instan.
“Prinsip dagang sederhana itu beli murah, jual mahal. Kalau jual murah, bangkrutlah. Jadi, beli murah jual mahal supaya ada margin,” ujar Boy.
Ia juga menekankan pentingnya kesehatan arus kas dalam menjalankan roda perusahaan.
“Kalau cash in 5, cash out 10, bangkrut,” tandas Boy.


