Saham

Target Harga Saham GOTO Direvisi KB Valbury Menjadi Rp 52, Laba Tumbuh Tetapi Valuasi Disesuaikan

KB Valbury menurunkan target saham GOTO dari Rp 61 menjadi Rp 52. Kinerja laba membaik, tetapi sejumlah segmen bisnis masih menghadapi tekanan.

Target Harga Saham GOTO Direvisi KB Valbury Menjadi Rp 52, Laba Tumbuh Tetapi Valuasi Disesuaikan
Foto: Dok GOTO

Kinerja keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang berhasil mencatatkan keuntungan selama tiga kuartal berturut-turut belum membuat KB Valbury Sekuritas mempertahankan target harga saham sebelumnya. Perusahaan sekuritas tersebut justru merevisi nilai wajar saham GOTO dengan mempertimbangkan perubahan kondisi pasar dan prospek masing-masing lini usaha.

Dalam riset terbarunya, KB Valbury menetapkan target harga GOTO sebesar Rp 52, turun dari rekomendasi sebelumnya di Rp 61. Kendati demikian, rekomendasi beli tetap diberikan. Analis KB Valbury, Atikah Tri Adriyanti, menilai perbaikan profitabilitas perusahaan perlu dilihat bersama perkembangan kualitas aset fintech dan tekanan yang dialami bisnis transportasi daring.

Fintech Menyumbang Hampir Separuh Adjusted EBITDA

GOTO mencatat laba bersih Rp 557 miliar pada kuartal III-2026. Angka tersebut naik 46,8% dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya. Secara akumulatif, keuntungan perusahaan selama Januari-September 2026 mencapai Rp 1,1 triliun.

Pencapaian itu menandai perubahan dibandingkan sembilan bulan pertama 2025, ketika GOTO masih membukukan kerugian Rp 775,6 miliar. Salah satu penopang hasil keuangan tersebut berasal dari layanan teknologi finansial atau financial technology (fintech).

Segmen ini memberikan sumbangan sebesar 49% terhadap adjusted EBITDA konsolidasi. Meski menjadi kontributor utama, Atikah melihat adanya perkembangan yang perlu dicermati pada portofolio pinjaman perusahaan.

Dalam riset yang dikutip Minggu (1/11/2026), ia mengungkapkan rasio pinjaman yang telah melewati jatuh tempo meningkat menjadi 8,9%. Pada periode sembilan bulan pertama 2025, rasio tersebut masih tercatat sebesar 7,7%.

Kebijakan Komisi Berdampak pada Bisnis Transportasi

Tekanan berikutnya terlihat pada segmen on demand services (ODS), terutama layanan mobilitas. Pemberlakuan batas maksimum komisi ojek daring sebesar 8% sejak 1 Juli 2026 menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan bisnis tersebut.

Pada kuartal III-2026, adjusted EBITDA segmen mobilitas tercatat Rp 159 miliar. Nilai itu merosot 45,2% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kondisi berbeda terlihat pada layanan pengantaran. Segmen ini mampu mencatatkan adjusted EBITDA Rp 227 miliar, tumbuh 20,1% secara tahunan. Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk mengimbangi penurunan pada bisnis mobilitas.

Secara gabungan, adjusted EBITDA ODS turun 25,2% secara kuartalan menjadi Rp 347 miliar. Perbedaan arah pertumbuhan kedua layanan tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam penilaian KB Valbury terhadap GOTO.

Perhitungan Valuasi Mengacu pada Bisnis Sejenis

Penetapan target Rp 52 menggunakan pendekatan enterprise value to sales (EV/sales) dengan kelipatan yang lebih rendah dibandingkan perhitungan sebelumnya. KB Valbury menyesuaikan rasio tersebut dengan valuasi perusahaan sejenis di pasar global.

Dalam model terbaru, bisnis ODS memperoleh kelipatan 1,1 kali, layanan keuangan 2,6 kali, sedangkan perdagangan elektronik menggunakan rasio 1,2 kali.

Penyesuaian juga mempertimbangkan pelemahan ekonomi makro dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. KB Valbury menilai dampak penurunan kelipatan valuasi lebih besar daripada keuntungan dari penggunaan proyeksi keuangan 2027 sebagai dasar perhitungan.

Selain tiga lini usaha tersebut, valuasi turut memasukkan kepemilikan GOTO di PT Bank Jago Tbk (ARTO). Nilainya dihitung berdasarkan harga pasar terkini melalui pendekatan mark to market. Dengan metode tersebut, KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli, tetapi menurunkan target harga saham GOTO menjadi Rp 52.