Tekanan jual yang melanda saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dipandang telah melampaui batas wajar. Emiten batu bara afiliasi Boy Thohir ini dinilai masih memiliki fundamental yang solid sehingga koreksi harga yang terjadi belakangan ini justru dilihat sebagai peluang untuk melakukan akumulasi bagi saham dengan target tinggi tersebut.
Kinerja Keuangan dan Prospek Laba
Sucor Sekuritas mencatat bahwa ADMR merupakan pemain di sektor batu bara metalurgi serta aluminium yang didukung oleh posisi kas yang sehat. Kondisi tersebut ditopang oleh mulai beroperasinya smelter PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) fase pertama.
Di samping itu, harga komoditas batu bara metalurgi atau hard coking coal saat ini bertengger di level USD261 per ton. Angka ini berada di atas estimasi awal yang dipatok sebesar USD228 per ton, yang sekaligus memberikan bantalan kuat bagi proyeksi laba bersih ADMR pada tahun 2026 yang diperkirakan mencapai USD428 juta atau melesat 78%.
“Kalaupun penjualan turun 30% akibat disrupsi debit air Sungai Barito, jalur logistik ADMR, laba bersih hanya turun 29% menjadi US$343 juta, sedangkan valuasi SOTP turun 6% menjadi Rp2.025,” tulis Sucor, dikutip Rabu (22/10/2026).
Potensi Dividen dan Rekomendasi Saham
Arus kas bersih ADMR diproyeksikan berbalik positif menjadi USD210 juta pada tahun 2026, berbanding terbalik dari posisi sebelumnya yang tercatat minus USD615 juta. Masuk ke tahun 2027, arus kas perusahaan bahkan diramal melompat hingga USD533 juta, yang kemudian mengantarkan perusahaan pada estimasi kas bersih USD354 juta pada 2028.
Kondisi keuangan yang semakin longgar ini membuka peluang lebar bagi pembagian dividen kepada para pemegang saham. Dengan asumsi rasio pembayaran atau dividend payout ratio sebesar 50%, dividen per saham ADMR untuk tahun buku 2026 diperkirakan berada di kisaran Rp106 per saham, sementara tahun 2027 berpotensi meningkat hingga Rp127 per saham.
Melihat berbagai katalis positif tersebut, Sucor Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham ADMR dengan target harga di level Rp2.150, yang merefleksikan potensi kenaikan harga hingga 65%. Saat ini, saham ADMR diperdagangkan pada rasio P/E atau PER 4,7 kali serta EV/EBITDA 2,8 kali menyusul penurunan harga komoditas batu bara metalurgi dan aluminium sebesar 14%.









