Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia menargetkan kontribusi keuangan badan usaha milik negara (BUMN) mencapai Rp200 triliun pada 2026. Target itu menjadi bagian dari transformasi perusahaan negara untuk meningkatkan keuntungan, memperkuat investasi, dan mendukung perekonomian nasional.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa laba bersih gabungan BUMN mencapai Rp214,9 triliun pada Januari–Agustus 2026, tumbuh 18,4 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut dipaparkan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Danantara juga membidik laba bersih BUMN Rp360 triliun untuk keseluruhan 2026. Namun, target kontribusi Rp200 triliun bukan berarti seluruh dana tersebut telah direalisasikan sebagai investasi baru.
Danantara targetkan kontribusi BUMN Rp200 triliun
Kontribusi bersih BUMN setelah memperhitungkan penyertaan modal negara (PMN) meningkat dari Rp53 triliun pada 2024 menjadi Rp138 triliun pada 2025. Pemerintah memproyeksikan kontribusi tersebut mencapai Rp200 triliun pada 2026 tanpa tambahan PMN.
Kontribusi bersih, laba bersih, dividen, dan dana investasi merupakan indikator yang berbeda. Laba merupakan keuntungan perusahaan; dividen adalah bagian laba yang dibagikan; sedangkan kontribusi bersih juga memperhitungkan hubungan keuangan tertentu antara negara dan BUMN.
| Tahun | Kontribusi bersih setelah PMN | Status |
|---|---|---|
| 2024 | Rp53 triliun | Realisasi |
| 2025 | Rp138 triliun | Realisasi |
| 2026 | Rp200 triliun | Proyeksi |
Laba bersih BUMN tembus Rp214,9 triliun
Sepanjang Januari–Agustus 2026, laba bersih gabungan BUMN mencapai Rp214,9 triliun dibandingkan Rp181,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Keuntungan tersebut meningkat Rp33,4 triliun atau 18,4 persen secara tahunan.
Tingkat pengembalian terhadap ekuitas atau return on equity (ROE) yang disetahunkan juga meningkat menjadi 8 persen dari 7,4 persen. Dony menyebut pembenahan model bisnis, efisiensi operasional, dan perbaikan pengelolaan menjadi bagian dari proses transformasi.
| Indikator | Januari–Agustus 2025 | Januari–Agustus 2026 |
|---|---|---|
| Laba bersih gabungan BUMN | Rp181,5 triliun | Rp214,9 triliun |
| ROE disetahunkan | 7,4% | 8,0% |
| Pertumbuhan laba tahunan | — | 18,4% |
Target laba Rp360 triliun pada 2026 masih memerlukan realisasi hingga akhir tahun buku.
Sebanyak 52 persen perusahaan BUMN masih merugi
Danantara masih menghadapi tantangan profitabilitas dalam portofolio perusahaan negara. Dony menyampaikan 52 persen dari 1.074 perusahaan dalam portofolio BUMN mencatat kerugian, dengan perkiraan kerugian kelompok tersebut sekitar Rp20 triliun per tahun.
Struktur perusahaan yang berlapis juga menimbulkan inefisiensi transaksi antarbadan usaha, dengan perkiraan kerugian US$2 miliar per tahun. Pembenahan perusahaan merugi dan penyederhanaan struktur bisnis diproyeksikan membuka peluang penghematan US$3,5 miliar per tahun.
Nilai penghematan itu merupakan estimasi hasil restrukturisasi, bukan seluruhnya telah terealisasi.
Hanya delapan perusahaan menyumbang 97 persen dividen
Dony mengungkapkan sekitar 97 persen dividen yang diterima Danantara berasal dari delapan perusahaan, meskipun total portofolionya mencapai 1.074 entitas.
Ketimpangan tersebut menjadi salah satu alasan restrukturisasi. Danantara menyiapkan penggabungan usaha, konsolidasi, divestasi, likuidasi, dan pembenahan keuangan untuk memperbaiki kontribusi perusahaan-perusahaan yang belum efisien.
Danantara siapkan restrukturisasi sekitar 750 perusahaan
Danantara menyiapkan penataan sekitar 750 perusahaan hingga akhir tahun melalui berbagai skema sesuai kondisi dan prospek masing-masing entitas.
| Langkah restrukturisasi | Jumlah perusahaan |
|---|---|
| Konsolidasi perusahaan | Sekitar 200 |
| Likuidasi perusahaan | 213 |
| Restrukturisasi keuangan | 15 |
| Penataan entitas noninti | Sekitar 280 |
Rincian tersebut merupakan komponen rencana penataan, bukan daftar seluruh perusahaan yang akan ditutup. Danantara juga menyampaikan sekitar 364 perusahaan telah dirampingkan dalam 18 bulan terakhir.
Dalam jangka panjang, jumlah perusahaan di bawah pengelolaan Danantara ditargetkan berkurang menjadi kurang dari 200 entitas pada 2029–2030.
Transformasi Semen Indonesia dan Pertamina mulai menunjukkan hasil
Dony menyampaikan laba bersih PT Semen Indonesia (Persero) Tbk meningkat hingga 427 persen setelah sejumlah langkah transformasi. Di sektor energi, penggabungan tiga entitas bisnis hilir Pertamina disebut menghasilkan penghematan sekitar US$1 miliar dalam enam bulan.
Penataan juga diterapkan pada bisnis bandar udara melalui pengembangan pendapatan komersial di luar layanan penerbangan, termasuk ritel dan properti.
Keuntungan BUMN disiapkan untuk investasi produktif
Peningkatan laba BUMN diharapkan memperkuat kemampuan pendanaan untuk investasi produktif, termasuk pengembangan industri, hilirisasi sumber daya alam, serta proyek strategis nasional.
Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa 26 proyek hilirisasi telah memasuki tahap peletakan batu pertama sepanjang 2026. Proyek-proyek itu mencakup pengolahan batu bara menjadi dimetil eter, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, serta pengembangan fasilitas alumina dan aluminium.
Realisasi penggunaan laba BUMN tetap bergantung pada keputusan alokasi, struktur pendanaan, dan tata kelola. Target kontribusi Rp200 triliun tidak otomatis menjadi anggaran investasi untuk seluruh proyek tersebut.
Danantara bidik BUMN lebih efisien hingga 2030
Transformasi Danantara diarahkan pada penyederhanaan struktur perusahaan, penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi teknologi, dan pengelolaan keuangan.
Danantara membidik terbentuknya kelompok perusahaan negara yang lebih ramping dan berdaya saing internasional pada 2029–2030. Keberhasilan rencana itu akan bergantung pada kemampuan menekan kerugian, meningkatkan profitabilitas, dan menjaga kelangsungan layanan serta kegiatan usaha utama BUMN.
Dengan laba gabungan mencapai Rp214,9 triliun hingga Agustus 2026, target kontribusi bersih Rp200 triliun dan laba bersih Rp360 triliun sepanjang 2026 menjadi sasaran yang masih harus dibuktikan hingga akhir tahun. Restrukturisasi ratusan perusahaan akan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan efisiensi dan memperkuat investasi nasional.








