— Whitesky Group mulai mematangkan ambisi untuk membawa Indonesia masuk lebih jauh dalam perkembangan Advanced Air Mobility di Asia Tenggara. Founder dan CEO Whitesky Group Denon Prawiraatmadja mengungkapkan roadmap pengembangan hingga 200 kendaraan listrik lepas landas dan mendarat vertikal atau electric vertical take-off and landing (eVTOL).

Visi tersebut disampaikan Denon dalam forum Advanced Air Mobility di Hong Kong. Sebagai satu-satunya pembicara dari Indonesia, ia menekankan bahwa peluang Indonesia tidak berhenti pada menjadi konsumen teknologi penerbangan baru, tetapi dapat berkembang sebagai pusat operasional dan ekosistem eVTOL di kawasan.

Whitesky Bidik Skala Operasional 200 eVTOL

Menurut Denon, perkembangan industri Advanced Air Mobility tidak semata ditentukan oleh negara yang paling cepat mengadopsi pesawat eVTOL. Faktor yang semakin penting adalah kemampuan mengoperasikan teknologi dalam skala komersial sekaligus membangun infrastruktur penunjangnya.

Karena itu, roadmap Whitesky tidak hanya berfokus pada pengadaan armada. Rencana hingga 200 eVTOL diarahkan berjalan beriringan dengan kesiapan operasional agar teknologi tersebut dapat diterapkan dalam layanan penerbangan yang nyata.

Indonesia dinilai memiliki karakter geografis yang mendukung pengembangan model transportasi tersebut. Sebagai negara kepulauan, kebutuhan mobilitas tersebar di berbagai kota, bandara, pusat ekonomi, kawasan industri, hingga wilayah yang sulit dijangkau menggunakan moda transportasi konvensional.

Ekosistem Jadi Fokus Pengembangan

Whitesky memandang keberadaan armada saja belum cukup untuk membangun bisnis Advanced Air Mobility. Perusahaan juga menyiapkan sejumlah elemen pendukung, mulai dari vertiport, fasilitas perawatan, sistem pengisian daya, keselamatan penerbangan, hingga pelatihan sumber daya manusia.

Aspek regulasi juga menjadi bagian penting dari roadmap tersebut. Kesiapan regulatory environment dinilai menentukan apakah teknologi eVTOL dapat berkembang dari tahap pengenalan menjadi layanan komersial yang dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Pendekatan ini membuat Whitesky mencoba membangun ekosistem secara menyeluruh, bukan sekadar menjadi operator yang mendatangkan pesawat dari produsen global.

Indonesia Berpeluang Naik Kelas di Industri eVTOL

Denon juga menilai hubungan dengan berbagai perusahaan teknologi internasional diperlukan untuk memperkuat keterhubungan Indonesia dengan perkembangan industri eVTOL global. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu proses adopsi teknologi sekaligus meningkatkan kesiapan operasional di dalam negeri.

Menurutnya, tantangan berikutnya bagi Indonesia adalah bertransformasi dari technology adopter menjadi operating ecosystem. Artinya, Indonesia tidak hanya membeli dan menggunakan teknologi, tetapi memiliki kemampuan untuk mengoperasikan serta mengembangkan layanan berbasis eVTOL.

Kehadiran Denon di forum regional Hong Kong menjadi momentum untuk membawa perspektif tersebut ke tingkat Asia-Pasifik. Whitesky ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi lebih luas dibandingkan sekadar pasar penjualan aircraft.

Roadmap 200 eVTOL Buka Peluang Ekspansi Regional

Jika rencana tersebut berjalan sesuai target, Indonesia berpotensi menjadi lokasi penerapan teknologi eVTOL dalam lingkungan operasional nyata. Dari sana, layanan dapat dikembangkan menjadi model komersial sebelum diperluas ke pasar regional.

Roadmap 200 eVTOL menjadi instrumen penting untuk mencapai skala tersebut. Pengembangan armada yang dibarengi infrastruktur, sumber daya manusia, keselamatan, maintenance, charging, dan regulasi dapat memperkuat fondasi bisnis Whitesky.

Dengan strategi tersebut, Whitesky berpeluang bergerak dari operator penerbangan nasional menuju salah satu pemain Advanced Air Mobility yang diperhitungkan di Asia Tenggara.