Topik.id — Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Aset kripto terbesar tersebut merosot ke kisaran US$76.000 setelah sentimen investor terhadap aset berisiko memburuk akibat kombinasi kenaikan harga minyak, inflasi produsen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan, serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.40 WIB, harga Bitcoin turun 1,76% menjadi US$76.745 per koin atau sekitar Rp1,35 miliar dengan asumsi kurs Rp17.592 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi di pasar kripto secara luas, dengan kapitalisasi pasar global turun 1,7% menjadi US$2,61 triliun.
Yield Obligasi AS Jadi Beban Utama Bitcoin
Salah satu tekanan terbesar datang dari pasar surat utang Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak hingga 5,353%, level tertinggi sejak Juni 2007. Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun mencapai 4,924%, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023.
Kenaikan yield tersebut terjadi meskipun Departemen Keuangan AS menjalankan operasi pembelian kembali obligasi senilai US$6 miliar. Kondisi ini menunjukkan tekanan di pasar obligasi masih kuat di tengah kekhawatiran mengenai inflasi dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Bagi Bitcoin, peningkatan imbal hasil surat utang dapat menjadi sentimen negatif karena investor memiliki alternatif instrumen dengan tingkat pengembalian lebih tinggi. Arus dana pun berpotensi bergeser dari aset berisiko menuju instrumen pendapatan tetap.
Inflasi Produsen AS Perkuat Ekspektasi Suku Bunga
Faktor kedua berasal dari data Producer Price Index (PPI) AS. Inflasi produsen pada Agustus tercatat 5,4% secara tahunan, lebih tinggi 0,1 poin persentase dari proyeksi pasar.
PPI inti juga meningkat 0,3% pada Agustus setelah tumbuh 0,4% pada Juli. Secara tahunan, PPI inti mencapai 4,7%. Data tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat.
CME Group FedWatch Tool mencatat probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed 16 September mencapai 69,8%, naik dari 61,2% sehari sebelumnya. Ekspektasi tersebut menjadi tekanan bagi Bitcoin yang sensitif terhadap likuiditas global.
Lonjakan Harga Minyak Tambah Tekanan Pasar
Kenaikan harga energi menjadi faktor ketiga yang memperburuk sentimen. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus US$100 per barel, sedangkan Brent naik melewati US$105 per barel di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Harga energi yang semakin mahal berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi ini dapat membatasi ruang penguatan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Pasar kini menanti data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus yang menjadi salah satu indikator penting sebelum keputusan The Fed pekan depan. Hasil CPI berpotensi menentukan arah ekspektasi suku bunga sekaligus menjadi katalis bagi pergerakan Bitcoin selanjutnya.
Ikuti Topik.id
