Topik.id — Harga minyak dunia yang kembali bergerak di atas US$100 per barel mulai menjadi perhatian bagi industri energi domestik. Jika tekanan harga bertahan dalam waktu panjang dan tidak diikuti penurunan signifikan, biaya produk BBM nonubsidi berpotensi ikut terdorong naik.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto memperkirakan harga Pertamax dapat berada di kisaran Rp18.000-Rp20.000 per liter apabila harga minyak global tetap tinggi. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi belum terlihatnya sinyal kuat bahwa harga minyak akan segera kembali turun.
Harga Minyak Jadi Penentu Harga Pertamax
Eko mengatakan pergerakan harga minyak dunia memiliki pengaruh besar terhadap harga BBM nonsubsidi. Dengan harga minyak yang sempat mencapai US$108 per barel, tekanan terhadap harga produk olahan energi semakin besar.
Jika kondisi tersebut berlangsung berkelanjutan, harga Pertamax dan produk BBM nonubsidi lainnya berpotensi bergerak menuju kisaran Rp18.000-Rp20.000 per liter.
Namun, proyeksi tersebut sangat bergantung pada durasi kenaikan harga minyak. Semakin lama harga minyak bertahan pada level tinggi, semakin besar tekanan terhadap biaya pengadaan produk BBM.
Panic Buying Bisa Ganggu Rantai Pasok
Di tengah kekhawatiran kenaikan harga, masyarakat diminta tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Pertamina Patra Niaga memastikan stok BBM di terminal maupun SPBU saat ini berada dalam kondisi aman.
Panic buying justru dapat menciptakan tekanan tambahan terhadap rantai pasok. Lonjakan permintaan secara tiba-tiba membuat kebutuhan pengisian ulang stok meningkat jauh di atas kondisi normal.
Eko menggambarkan, jika kebutuhan normal berada di angka 100, panic buying dapat meningkatkan permintaan menjadi 110-120. Tambahan volume tersebut terlihat kecil secara angka, tetapi membutuhkan proses logistik yang cukup panjang untuk dipenuhi.
Pemulihan Stok Membutuhkan Waktu
Pertamina Patra Niaga memperkirakan proses recovery stok dapat membutuhkan setidaknya beberapa hari hingga sekitar satu pekan, tergantung kondisi persediaan dan besarnya lonjakan permintaan.
Penyesuaian pasokan tidak dapat dilakukan hanya dengan menambah pengiriman dari terminal. Ketika permintaan meningkat signifikan, perusahaan perlu menyiapkan sejumlah komponen dalam rantai pasok secara bersamaan.
Mulai dari peningkatan produksi kilang, opsi impor ketika pasokan domestik tidak mencukupi, hingga penambahan armada kapal untuk mendistribusikan BBM ke berbagai terminal. Di tingkat darat, mobil tangki juga harus ditambah untuk mempercepat pengiriman ke SPBU.
Ketersediaan armada menjadi salah satu tantangan karena penambahan kendaraan dalam waktu singkat tidak selalu mudah dilakukan. Kondisi ini membuat perusahaan berupaya mencegah lonjakan permintaan yang tidak diperlukan.
Konflik Timur Tengah Tekan Pasokan Energi
Kenaikan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pertempuran di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.
Ketegangan antara AS dan Iran serta serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi turut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan energi. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan berkepanjangan.
Permintaan minyak mentah yang meningkat untuk mengantisipasi risiko tersebut kemudian ikut memberikan tekanan tambahan terhadap harga. Jika ketegangan geopolitik belum mereda, harga minyak berpotensi tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Ikuti Topik.id
