— Wall Street berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (11/9/2026) di zona hijau setelah harga minyak mulai mereda. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk membalikkan kinerja mingguan bursa saham Amerika Serikat yang masih berada di bawah tekanan akibat kenaikan harga energi dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter The Fed.

S&P 500 naik 0,8% menjadi 7.654,52 poin, Nasdaq Composite menguat 1% ke 26.333,04 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 1% menjadi 52.572,81 poin. Meski demikian, secara mingguan S&P 500 turun 0,8%, Nasdaq melemah 0,7%, dan Dow terkoreksi 1,6%.

Data Inflasi Mengubah Ekspektasi Suku Bunga

Perhatian investor pada akhir pekan tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat CPI umum naik 0,4% secara bulanan pada Agustus, sementara CPI inti meningkat 0,3%.

Angka tersebut sesuai ekspektasi untuk inflasi umum, tetapi CPI inti lebih tinggi dari perkiraan konsensus sebesar 0,2%. Secara tahunan, CPI umum tumbuh 3,4%, sedangkan CPI inti melambat menjadi 2,4% dari 2,5% pada Juli.

Data tersebut membuat pasar semakin memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan bunga melonjak hampir 87%, dibandingkan sekitar 69% sebelum laporan CPI dirilis.

Pasar Obligasi Ikut Mengirim Sinyal Hawkish

Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga tercermin di pasar surat utang AS. Obligasi mengalami aksi jual, terutama pada tenor panjang, sehingga imbal hasil bergerak naik.

Yield Treasury 10 tahun meningkat 3 basis poin menjadi 4,974%, sedangkan yield tenor dua tahun melonjak 8 basis poin menjadi 4,630%. Kenaikan yield dua tahun menjadi perhatian karena instrumen tersebut lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan suku bunga.

Tekanan pada obligasi telah berlangsung sejak keputusan The Fed pada Juli. Yield Treasury 30 tahun bahkan sempat mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Harga Minyak Jadi Risiko Baru bagi Inflasi

Selain kebijakan moneter, pasar saham AS menghadapi tekanan dari lonjakan harga minyak. Ketegangan antara AS dan Iran serta risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz membuat Brent dan WTI menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei.

Dalam dua pekan terakhir, harga minyak telah meningkat lebih dari 18%. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi karena biaya energi yang lebih tinggi dapat kembali menekan daya beli rumah tangga dan biaya operasional perusahaan.

Harga solar di AS bahkan sempat menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis.

Wall Street Menanti Keputusan FOMC

Laporan mengenai rencana pertemuan negara-negara Teluk dan Iran di Oman untuk membahas pemulihan pelayaran melalui Selat Hormuz sempat memberikan sentimen positif terhadap pasar minyak. Namun, investor masih menunggu bukti pemulihan arus energi secara nyata.

Di sisi lain, keputusan FOMC akan menjadi katalis utama pekan depan. Pasar kini sudah memasukkan peluang kenaikan suku bunga yang cukup besar sehingga keputusan untuk menahan bunga justru dapat memicu volatilitas.

Bagi investor, arah Wall Street selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi kebijakan The Fed, perkembangan harga minyak, serta kemampuan pasar menilai apakah tekanan inflasi bersifat sementara atau berpotensi bertahan lebih lama.