— Harga Bitcoin (BTC) bergerak menguat pada perdagangan Sabtu (12/9/2026) pagi, meski pasar kembali menghadapi potensi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Data inflasi terbaru membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan semakin diperhitungkan investor.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.40 WIB, BTC naik 0,56% menjadi US$77.250 per koin atau sekitar Rp1,36 miliar dengan asumsi kurs Rp17.607 per dolar AS. Penguatan juga terlihat di pasar kripto secara keseluruhan, dengan kapitalisasi pasar global meningkat 0,99% menjadi US$2,64 triliun.

Bitcoin Bertahan di Tengah Tekanan Kebijakan Moneter

Pergerakan Bitcoin menunjukkan investor belum melakukan aksi jual besar meski prospek suku bunga AS kembali menjadi perhatian. Pasar kini memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah indikator inflasi menunjukkan tekanan harga masih bertahan.

Inflasi inti AS pada Agustus tercatat naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari konsensus 0,2%. Sementara inflasi umum meningkat 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar.

Fitch Ratings menilai perkembangan tersebut membuat ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga semakin sempit. Namun, bagi pasar kripto, potensi kenaikan bunga tersebut dinilai sudah cukup banyak tercermin dalam harga.

Ekspektasi Kenaikan Bunga Mulai Terbentuk di Pasar

Strategi pasar LMAX Group Joel Kruger melihat risiko dari kebijakan The Fed yang lebih hawkish sebagian besar telah diperhitungkan pelaku pasar. Dengan demikian, apabila kenaikan bunga 25 basis poin benar-benar terjadi sesuai ekspektasi, reaksi Bitcoin kemungkinan tidak terlalu besar.

Risiko volatilitas justru dapat meningkat apabila keputusan The Fed berbeda dari perkiraan. Penahanan suku bunga, misalnya, berpotensi menjadi kejutan positif bagi aset berisiko karena dapat mengubah kembali ekspektasi investor terhadap arah likuiditas global.

Di sisi lain, pasar kripto secara luas masih menunjukkan sentimen positif. Ethereum (ETH) naik 2,6% menjadi US$2.514, sedangkan Binance Coin (BNB) menguat 2,21% ke US$727. Indeks CoinDesk 20 juga meningkat 1,22%.

Data Historis Menjadi Penopang Sentimen Bitcoin

Senior Crypto Research Strategist 21Shares Matt Mena menilai kenaikan suku bunga tidak selalu langsung menghasilkan tekanan berkepanjangan bagi Bitcoin. Berdasarkan pengamatannya, BTC secara rata-rata justru mencatat kenaikan 2,13% dalam 30 hari setelah rilis data inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan.

Pergerakan sejumlah aset kripto besar yang tetap positif turut menunjukkan investor masih mempertahankan eksposur terhadap aset berisiko. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tidak semata-mata melihat arah suku bunga, tetapi juga mempertimbangkan faktor makroekonomi lainnya.

Bitcoin dan Emas Sama-Sama Jadi Perhatian

CIO Risk Dimensions Mark Connors menyoroti fenomena menarik ketika Bitcoin dan emas sama-sama menguat saat imbal hasil obligasi AS meningkat. Menurutnya, kenaikan yield dapat mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap inflasi, utang pemerintah, serta kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter.

Situasi tersebut membuat Bitcoin dan emas berpotensi kembali dipandang sebagai alternatif oleh investor yang mencari aset di luar instrumen keuangan tradisional. Dengan demikian, arah BTC menjelang keputusan The Fed tidak hanya ditentukan oleh suku bunga, tetapi juga bagaimana pasar membaca risiko inflasi dan kondisi ekonomi global.