— Tekanan pasar global masih membayangi pergerakan saham domestik hingga akhir pekan. IHSG melemah dua hari berturut-turut, sementara investor asing mencatat aksi jual bersih di pasar reguler. Kondisi tersebut membuat strategi selektif menjadi semakin penting di tengah tingginya yield global dan harga minyak.

Di tengah tekanan tersebut, investor asing mulai menunjukkan pola rotasi ke sejumlah saham berbasis komoditas. PT Mirae Asset Sekuritas mencatat ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA sempat menjadi sasaran akumulasi asing pada Kamis, sebelum pola pembelian kembali bergeser pada perdagangan Jumat.

IHSG Masih Berada dalam Tekanan Asing

IHSG pada Kamis 10 September 2026 turun 1,33% ke level 6.589 dan diikuti net sell asing Rp748 miliar di pasar reguler. Tekanan berlanjut pada Jumat 11 September, ketika indeks kembali terkoreksi 0,73% dengan net sell asing mencapai Rp732,81 miliar.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor perlu mencermati fundamental emiten serta kondisi likuiditas domestik. Tekanan sebelumnya juga terlihat pada saham perbankan seperti BBCA dan BBRI yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Meski demikian, aksi jual tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh sektor. Pergerakan dana asing justru menunjukkan adanya rotasi menuju saham tertentu, terutama emiten komoditas.

Saham Komoditas Mulai Jadi Sasaran Rotasi

Pada perdagangan Kamis, ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA menjadi sejumlah saham yang diakumulasi investor asing. Namun, arah tersebut berubah pada Jumat ketika BBRI, AADI, dan PTBA kembali menjadi sasaran pembelian asing.

Pola tersebut menunjukkan investor masih mencari ruang di tengah tekanan pasar, dengan mempertimbangkan sektor yang memiliki dukungan fundamental dan katalis komoditas. Strategi rotasi menjadi penting ketika saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, menghadapi tekanan jual.

Rully menyebut sentimen eksternal masih cukup berat. US10YT mendekati 5%, European Central Bank mempertahankan tekanan suku bunga hingga 2,5%, sementara harga minyak masih berada di level tinggi.

Rupiah dan Likuiditas Domestik Jadi Penopang

Rupiah berada di sekitar Rp17.547 per dolar AS, sedangkan yield SBN tenor 10 tahun mencapai 7,11%. Tidak adanya lelang SRBI sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan menuju pasar SBN.

Penguatan rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengurangi sikap defensif dan melonggarkan likuiditas dalam jangka pendek. Namun, tingginya harga minyak dan yield global masih membatasi ruang pelonggaran melalui BI-Rate.

Kondisi likuiditas tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor ketika menentukan sektor dan saham yang berpotensi lebih defensif.

Konsumsi Mulai Pulih, tetapi Belum Merata

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan perbaikan keyakinan konsumen mulai terlihat. Indeks Keyakinan Konsumen Agustus naik menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini meningkat menjadi 109,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 127,6. Namun, jarak 18,2 poin antara kondisi saat ini dan ekspektasi menunjukkan konsumen masih berhati-hati.

Di sisi lain, penurunan porsi tabungan pada kelompok pengeluaran Rp1-4 juta perlu menjadi perhatian. Konsumsi yang meningkat memang dapat menopang permintaan, tetapi tabungan yang menurun menunjukkan ruang keuangan sebagian rumah tangga semakin terbatas.

Dengan inflasi tahunan 3,19%, pemulihan konsumsi tetap bergantung pada pertumbuhan pendapatan riil dan kondisi pasar tenaga kerja. Mirae Asset karena itu mempertahankan pendekatan selektif pada saham berfundamental kuat dan memiliki arus kas solid, sementara RDPU dan RDPT tetap dipandang menarik sesuai kebutuhan likuiditas dan peluang pasar obligasi.