Topik.ID — IHSG mengakhiri perdagangan pekan 7-11 September 2026 dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,43% ke level 6.541,38, berbalik arah setelah pada pekan sebelumnya mampu mencatat penguatan 1,82%.
Pelemahan indeks terutama dipengaruhi aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Sektor perbankan dan emiten yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi menjadi sumber tekanan utama, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat kontribusi negatif paling besar terhadap pergerakan IHSG.
BBCA Menjadi Pemberat Terbesar IHSG
BBCA menjadi saham dengan tekanan terbesar sepanjang pekan. Harga saham bank tersebut merosot 5,60% menjadi Rp6.325 per saham dan memberikan kontribusi negatif 33,09 poin terhadap IHSG.
Tekanan berikutnya berasal dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Saham emiten tambang tersebut anjlok 10,51% ke Rp12.350 dan mengurangi IHSG sebesar 23,63 poin.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga masuk dalam jajaran pemberat utama setelah turun 3,54% menjadi Rp3.270. Saham BBRI menyumbang tekanan 17,51 poin terhadap indeks.
Saham Konglomerasi Ikut Menekan Pasar
Tekanan pasar tidak hanya berasal dari sektor perbankan. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi 6,78% dan memberikan kontribusi negatif 6,86 poin.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menyusul dengan penurunan 4,82% serta tekanan 6,26 poin terhadap IHSG. Dari sektor tambang, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 5,59% dan menyumbang tekanan 5,95 poin.
Sementara itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 5,03% dengan kontribusi negatif 5,22 poin. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga terkoreksi 1,36% sehingga menekan indeks sebesar 4,90 poin.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 3,57% dan memberikan tekanan 4,64 poin. Adapun PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) merosot 8,09%, menjadi penurunan persentase terdalam dalam daftar tersebut, dengan kontribusi negatif 4,31 poin.
Secara kumulatif, sepuluh saham tersebut memberikan tekanan sekitar 112 poin terhadap IHSG selama sepekan.
Asing Catat Net Sell Rp2,31 Triliun
Tekanan indeks turut tercermin dari aliran dana investor asing. Sepanjang pekan, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,31 triliun di pasar reguler.
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), IHSG bahkan sempat turun hingga 6.462,96 sebelum akhirnya ditutup di 6.541,38. Nilai transaksi harian mencapai Rp14,71 triliun.
Dari sisi sektoral, IDX Energy menjadi sektor dengan pelemahan terbesar, yakni 1,22%, diikuti IDX Infrastructure yang turun 1,20%. Sebaliknya, IDX Health menjadi sektor yang mencatat penguatan signifikan dengan kenaikan 3,91%.
IHSG Berpotensi Bergerak 6.450-6.700
Phintraco Sekuritas menyoroti kenaikan harga minyak mentah yang kembali menembus US$100 per barel sebagai salah satu sentimen yang perlu diperhatikan investor.
Pasar juga akan menghadapi agenda bank sentral utama pada pekan depan. The Fed dijadwalkan mengumumkan kebijakan pada 16 September, disusul Bank of England pada 17 September dan Bank of Japan pada 18 September.
Secara teknikal, IHSG masih berada di atas MA20. MACD mingguan juga bertahan di zona positif, meski Stochastic RSI telah membentuk death cross di area overbought.
Dengan kombinasi faktor fundamental dan teknikal tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.450-6.700 pada perdagangan pekan depan.
Ikuti Topik.ID
