— Harga emas kembali menjadi perhatian pasar setelah mengalami tekanan pada perdagangan pekan ini. Logam mulia sempat merosot ke level terendah mingguan US$4.292,11 per troy ounce pada Jumat (11/9/2026), sebelum mencoba memulihkan sebagian penurunannya.

Meski belum mampu kembali menembus level US$4.400 per troy ounce, prospek emas masih dinilai positif oleh sejumlah analis Wall Street. Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan FOMC mendatang menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi menentukan arah harga emas dalam jangka pendek.

Wall Street Masih Pertahankan Pandangan Bullish

Survei Emas Kitco News menunjukkan sentimen analis profesional masih cenderung optimistis. Dari 14 analis yang berpartisipasi, sebanyak sembilan orang atau 64% memperkirakan emas akan menguat pada pekan depan.

Sementara itu, hanya dua analis atau sekitar 14% yang memperkirakan harga emas kembali melemah. Tiga analis lainnya, setara 21%, memperkirakan emas bergerak sideways dengan volatilitas yang masih tinggi.

Marc Chandler, direktur pelaksana Bannockburn Global Forex, menilai emas berpeluang menguat menjelang keputusan FOMC. Ia memperkirakan area US$4.460 hingga US$4.510 per troy ounce menjadi sasaran teknikal yang cukup realistis.

Keputusan The Fed Jadi Penentu Utama

Chandler menilai kebijakan moneter The Fed menjadi faktor paling penting yang akan menentukan arah emas. Pasar berjangka Fed funds saat ini telah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga hampir 90%.

Namun, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan pandangan ekonom. Berdasarkan survei Bloomberg pada 4-9 September, hanya 13 dari 48 ekonom yang memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga.

Perbedaan ekspektasi tersebut membuat hasil FOMC berpotensi memicu pergerakan harga yang cukup besar. Jika kenaikan suku bunga tidak terjadi, emas berpeluang mendapatkan dorongan baru karena tekanan terhadap aset tanpa imbal hasil dapat berkurang.

Chandler juga melihat penembusan harga di atas US$4.540 sebagai sinyal yang dapat memperbaiki prospek teknikal emas.

Kontrak Desember Berpeluang Bangun Momentum

Darin Newsom, analis pasar senior Barchart.com, turut mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Menurutnya, kontrak berjangka emas Desember masih mampu bertahan di atas level penutupan harian terendah sebelumnya, yakni US$4.396,40 pada 1 September.

Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pijakan bagi kontrak Dec26 untuk membangun momentum menuju level penutupan tertinggi sebelumnya sebesar US$4.539,90 yang tercatat pada 3 September.

Skenario US$5.000 Mulai Terbuka

Pialang komoditas senior StoneX Group, Bob Haberkorn, memperkirakan ruang penurunan emas semakin terbatas apabila suku bunga The Fed tidak mengalami kenaikan signifikan.

Menurutnya, aksi jual sebelumnya sudah cukup banyak mengantisipasi data inflasi konsumen AS yang tinggi. Ketika tekanan tersebut mereda, investor mulai melihat peluang untuk kembali melakukan pembelian di harga rendah.

Haberkorn bahkan memperkirakan emas dapat bergerak bertahap menuju US$5.000 per troy ounce apabila The Fed memilih tidak menaikkan suku bunga. Skenario tersebut membuat keputusan FOMC menjadi katalis penting yang akan menentukan apakah reli emas kembali mendapatkan tenaga baru.