Topik.id — Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 16 September 2026. Mata uang Garuda melanjutkan tekanan dari sesi sebelumnya ketika pelaku pasar mulai meningkatkan perhatian terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange pada pukul 09.05 WIB berada di level Rp17.730 per dolar AS. Posisi tersebut turun 36 poin atau 0,20% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Selasa, 15 September 2026, rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,14% di level Rp17.694 per dolar AS.
Dolar AS Menguat Menjelang Keputusan The Fed
Pergerakan rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS di pasar global. Dikutip dari MarketScreener, dolar AS bertahan di dekat level tertingginya dalam beberapa pekan terhadap sejumlah mata uang utama menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,11% ke level 99,725. Penguatan tersebut mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati sebelum mengetahui keputusan dan pandangan terbaru bank sentral Amerika Serikat.
Pasar saat ini telah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sekitar 90%. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan dolar apabila The Fed menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi dinilai relatif terbatas.
Pasar Mencermati Sinyal Kebijakan Berikutnya
Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia di Sydney, mengatakan kenaikan 25 basis poin telah banyak tercermin dalam harga pasar. Karena itu, keputusan sesuai ekspektasi diperkirakan hanya memberikan dorongan moderat terhadap dolar AS.
Perhatian investor justru dapat beralih kepada konferensi pers dan sinyal mengenai kebijakan selanjutnya. Apabila Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan indikasi bahwa kenaikan suku bunga berikutnya tidak menjadi prioritas, dolar AS berpotensi mengalami tekanan.
Sebaliknya, keputusan yang lebih ketat dari perkiraan pasar dapat memperkuat dolar dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Mata Uang Global Bergerak Beragam
Di pasar valuta asing, euro berada di level US$1,1535 per dolar AS. Posisi tersebut tidak jauh dari titik terendah satu bulan sebesar US$1,1523 yang tercatat pada Senin.
Poundsterling Inggris juga bergerak di level US$1,3470 per dolar AS. Sementara itu, dolar Australia relatif stabil di US$0,7126 per dolar AS.
Dolar Selandia Baru justru menyentuh level terendah dalam dua bulan, yakni US$0,5749 per dolar AS pada perdagangan pagi di Asia. Yen Jepang juga berada di posisi terendah satu pekan pada 155,43 per dolar AS.
Rupiah Menunggu Dampak Keputusan The Fed
Pergerakan dolar global dan hasil keputusan Federal Reserve menjadi faktor penting bagi arah rupiah sepanjang perdagangan. Selain suku bunga, pelaku pasar akan mencermati pernyataan pejabat The Fed mengenai prospek kebijakan moneter selanjutnya.
Jika keputusan dan komunikasi bank sentral sesuai ekspektasi, respons pasar berpotensi lebih terukur. Namun, perubahan pandangan terhadap jalur suku bunga dapat memicu volatilitas lebih tinggi pada dolar AS maupun aset pasar negara berkembang.
