PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih Rp90,3 triliun sepanjang Januari–September 2026 atau hingga kuartal III 2026. Jumlah tersebut turun sekitar 10% dari Rp100,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu, seiring tekanan pada sejumlah bisnis alat berat dan pertambangan.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp4,47 triliun, merosot sekitar 61% dari Rp11,48 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Angka Rp90,3 triliun adalah pendapatan, bukan laba.
Menurut laporan keuangan konsolidasian dan keterangan perseroan yang diumumkan pada Senin (26/10/2026), tekanan antara lain berasal dari bisnis alat berat, pertambangan batu bara, serta penurunan penjualan emas PT Agincourt Resources. Perusahaan juga melaporkan laba bersih di luar pos nonberulang sebesar Rp7,9 triliun, turun 31% secara tahunan.
Pendapatan United Tractors turun 10% menjadi Rp90,3 triliun
Pendapatan konsolidasian United Tractors mencapai Rp90,33 triliun, dibandingkan Rp100,47 triliun sepanjang Januari–September 2025. Artinya, terjadi penurunan sekitar Rp10,13 triliun atau 10,08%.
United Tractors menyatakan penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional ikut membatasi permintaan alat berat dan kegiatan pertambangan. Penjualan emas dari PT Agincourt Resources juga terdampak penghentian sementara operasi Tambang Emas Martabe.
Di sisi lain, pendapatan kontraktor penambangan tumbuh, antara lain didukung penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Kegiatan usaha United Tractors mencakup distribusi alat berat, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, pertambangan emas dan mineral lain, serta energi.
Laba bersih UNTR anjlok 61% hingga September 2026
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp4,47 triliun dari Rp11,48 triliun. Laba bruto berkurang menjadi Rp17,89 triliun dari Rp22,03 triliun, sedangkan laba sebelum pajak menyusut menjadi sekitar Rp6,80 triliun dari Rp15,48 triliun.
| Indikator | Jan–Sep 2025 | Jan–Sep 2026 |
|---|---|---|
| Pendapatan bersih | Rp100,47 triliun | Rp90,33 triliun |
| Laba bruto | Rp22,03 triliun | Rp17,89 triliun |
| Laba sebelum pajak | Rp15,48 triliun | Rp6,80 triliun |
| Laba bersih atribusi pemilik induk | Rp11,48 triliun | Rp4,47 triliun |
| Laba per saham | Rp3.160 | Rp1.273 |
Angka dibulatkan berdasarkan laporan keuangan konsolidasian sembilan bulan hingga 30 September 2026.
Laporan keuangan juga mencatat kerugian penurunan nilai investasi sekitar Rp2,75 triliun. Laba per saham dasar turun dari Rp3.160 menjadi Rp1.273. Penurunan laba lebih besar daripada penurunan pendapatan karena tekanan terhadap hasil usaha dan dampak pos tertentu dalam pelaporan.
Perseroan menyajikan ukuran tambahan berupa laba bersih yang disesuaikan dengan mengeluarkan pos nonberulang sebesar Rp7,9 triliun, turun 31%. Ukuran tersebut berbeda dari laba bersih atribusi pemilik induk yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
Penjualan alat berat Komatsu turun 17%
Penjualan alat berat Komatsu mencapai 3.026 unit hingga September 2026, turun 17% secara tahunan. Penurunan lebih tajam terjadi pada kategori alat berat besar untuk pertambangan yang menyusut 48% menjadi 481 unit.
Kondisi ini berhubungan dengan penyesuaian aktivitas pelanggan tambang terhadap RKAB batu bara. Pendapatan bisnis alat berat mencapai Rp23,6 triliun, turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, pendapatan suku cadang dan layanan pemeliharaan naik 2% menjadi Rp8,5 triliun dari Rp8,3 triliun. Kegiatan purna jual menjadi penopang ketika penjualan unit alat berat melambat.
Pendapatan kontraktor penambangan naik 11%
Segmen kontraktor penambangan yang dijalankan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) membukukan pendapatan Rp44,5 triliun, naik 11% secara tahunan.
Meski pendapatan meningkat, volume pemindahan tanah atau overburden removal turun 7% menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm). Produksi batu bara bagi pelanggan berkurang 3% menjadi 106 juta ton, sedangkan rasio pengupasan tanah rata-rata sebesar 7,2 kali.
Penurunan volume terkait penyesuaian target produksi pelanggan tambang. PAMA dan KPP Mining juga mengembangkan aktivitas jasa pertambangan pada mineral lain, termasuk emas dan nikel.
Bisnis pertambangan batu bara ikut tertekan
PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources membukukan volume penjualan batu bara 7,1 juta ton, turun 23% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,1 juta ton merupakan batu bara metalurgi.
Pendapatan bisnis pertambangan batu bara turun 15% menjadi Rp15,9 triliun. Penyesuaian aktivitas pertambangan dan target produksi setelah alokasi RKAB yang lebih rendah turut memengaruhi pendapatan segmen.
Penjualan emas Agincourt Resources turun akibat gangguan operasional
United Tractors melaporkan penjualan emas PT Agincourt Resources mengalami penurunan karena kegiatan Tambang Emas Martabe sempat dihentikan sementara.
Menurut perusahaan, kegiatan operasi tambang kembali dijalankan pada periode pelaporan kuartal II 2026. Meski demikian, dampak gangguan penjualan pada periode sebelumnya masih tercermin dalam hasil usaha selama sembilan bulan.
Bisnis pertambangan emas turut memengaruhi laba bersih yang disesuaikan di luar pos nonberulang. United Tractors terus mengembangkan usaha mineral lain sebagai bagian dari diversifikasi portofolionya.
Pos nonberulang capai Rp3,5 triliun
United Tractors mencatat sejumlah pos nonberulang sekitar Rp3,5 triliun hingga September 2026. Pos tersebut mencakup penurunan nilai investasi Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan yang berhubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Dampak pos tersebut memengaruhi laba bersih konsolidasian. Karena itu, perseroan turut mengungkap laba bersih yang telah disesuaikan Rp7,9 triliun sebagai gambaran tambahan kinerja di luar pos tertentu.
Angka laba disesuaikan dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk bukan ukuran identik sehingga tidak bisa digunakan secara bergantian.
Aset United Tractors meningkat menjadi Rp182,8 triliun
Total aset perseroan mencapai Rp182,81 triliun pada akhir September 2026, naik dari Rp177,63 triliun per akhir Desember 2025. Total liabilitas tercatat Rp78,99 triliun dan ekuitas Rp103,82 triliun.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Total aset | Rp182,81 triliun |
| Total liabilitas | Rp78,99 triliun |
| Total ekuitas | Rp103,82 triliun |
| Utang bersih | Rp4,6 triliun |
| Rasio gearing | 4,2% |
| Kas bersih akhir 2025 | Rp7,7 triliun |
Angka posisi keuangan per 30 September 2026, kecuali kas bersih sebagai pembanding akhir 2025.
United Tractors mencatat utang bersih Rp4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2%. Posisi ini berubah dari akhir 2025 ketika perusahaan masih memiliki kas bersih Rp7,7 triliun.
Menurut perseroan, perubahan posisi kas dan utang terutama berkaitan dengan akuisisi perusahaan pertambangan emas serta program pembelian kembali saham atau share buyback.
Kinerja United Tractors hingga kuartal III 2026 dipengaruhi beberapa sektor
Kinerja operasional memperlihatkan penurunan pada penjualan alat berat Komatsu, produksi batu bara untuk pelanggan, volume pemindahan tanah, dan penjualan batu bara Turangga Resources.
| Indikator operasional | Realisasi 2026 | Perubahan tahunan |
|---|---|---|
| Penjualan Komatsu | 3.026 unit | Turun 17% |
| Penjualan alat berat besar pertambangan | 481 unit | Turun 48% |
| Pendapatan suku cadang dan pemeliharaan | Rp8,5 triliun | Naik 2% |
| Pendapatan segmen alat berat | Rp23,6 triliun | Turun 19% |
| Volume pemindahan tanah PAMA dan KPP | 766 juta bcm | Turun 7% |
| Produksi batu bara untuk klien | 106 juta ton | Turun 3% |
| Pendapatan kontraktor penambangan | Rp44,5 triliun | Naik 11% |
| Penjualan batu bara Turangga Resources | 7,1 juta ton | Turun 23% |
| Pendapatan pertambangan batu bara | Rp15,9 triliun | Turun 15% |
Angka pendapatan segmen tidak dapat langsung dijumlahkan menjadi pendapatan konsolidasian tanpa eliminasi antarsegmen.
Sebaliknya, bisnis kontraktor penambangan mencatat peningkatan pendapatan 11%, sementara pendapatan suku cadang dan pemeliharaan bertambah 2%. Perbedaan kinerja tiap lini usaha menunjukkan tekanan yang tidak merata di seluruh segmen.
United Tractors perkuat diversifikasi bisnis pertambangan
United Tractors terus mengembangkan kegiatan di luar distribusi alat berat dan pertambangan batu bara, antara lain melalui jasa kontraktor pertambangan emas dan nikel, portofolio mineral, serta layanan purna jual alat berat.
Ekspansi melalui akuisisi turut memengaruhi struktur pendanaan perusahaan. Dampak jangka panjang diversifikasi perlu dilihat dari hasil keuangan pada periode-periode berikutnya.
Pendapatan United Tractors Rp90,3 triliun, laba bersih Rp4,47 triliun
United Tractors membukukan pendapatan Rp90,33 triliun hingga kuartal III 2026, turun 10%, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 61% menjadi Rp4,47 triliun. Di luar pos nonberulang, laba bersih yang disesuaikan tercatat Rp7,9 triliun, turun 31%.
Di tengah tekanan penjualan alat berat dan pertambangan batu bara, pendapatan kontraktor penambangan masih tumbuh menjadi Rp44,5 triliun. Perseroan terus menjalankan bisnis alat berat, jasa pertambangan, dan pertambangan mineral sebagai bagian dari portofolionya.
Dengan demikian, Rp90,3 triliun yang dicatat hingga September 2026 merupakan pendapatan bersih, bukan laba. Laba bersih untuk pemegang saham induk tercatat sekitar Rp4,47 triliun.









