Harga perak murni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Sabtu, 31 Oktober 2026. Penurunan kali ini mencapai Rp 2.000 per gram sehingga harga jualnya turun ke posisi Rp 33.650.
Berdasarkan informasi yang tercantum di laman Logam Mulia, pelemahan tersebut melanjutkan koreksi yang sudah berlangsung selama dua hari sebelumnya. Dalam tiga hari terakhir, harga perak Antam tercatat terus bergerak turun seiring tekanan yang juga terjadi di pasar logam mulia global.
Harga Perak Antam Turun dalam Tiga Hari Beruntun
Sebelum penurunan pada Sabtu, harga perak Antam lebih dahulu terkoreksi Rp 1.050 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Saat itu, harganya turun menjadi Rp 35.650 per gram.
Tekanan juga terlihat pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Harga perak Antam merosot Rp 400 ke level Rp 36.700 per gram.
Dengan penurunan terbaru, harga perak telah mengalami koreksi secara beruntun dalam tiga hari perdagangan. Kondisi ini membuat harga logam putih tersebut semakin jauh dari posisi sebelumnya.
Untuk pembelian dalam ukuran lebih besar, Antam menetapkan harga dasar perak murni 250 gram sebesar Rp 8.812.500. Setelah dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11 persen, nilainya menjadi Rp 9.781.875.
Sementara itu, perak dengan berat 500 gram dibanderol dengan harga dasar Rp 16.825.000. Harga setelah termasuk PPN 11 persen mencapai Rp 18.675.750.
Harga Perak Dunia Tembus ke Bawah US$ 50 per Ons
Tekanan terhadap harga perak tidak hanya terjadi di dalam negeri. Pasar internasional juga mencatat pelemahan cukup besar setelah harga perak dunia merosot 5,79 persen menjadi US$ 49,14 per ons.
Mengutip Reuters, penurunan tersebut membawa harga perak kembali ke bawah level US$ 50 per ons untuk pertama kalinya dalam 11 bulan. Secara mingguan, logam putih itu telah kehilangan sekitar 7 persen dari nilainya.
Koreksi perak bahkan lebih dalam dibandingkan emas yang tercatat turun 2,9 persen dalam periode yang sama. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat di pasar logam mulia.
Indikator Relative Strength Index (RSI) pada ketiga logam yang disebutkan dalam laporan tersebut juga masuk jauh ke wilayah jenuh jual atau oversold. Kondisi serupa terakhir kali terjadi sekitar tiga tahun lalu.
Permintaan Industri Ikut Membebani Perak
Wong menyoroti pola penurunan perak yang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Menurutnya, tekanan seperti ini menjadi perhatian karena tidak hanya berupa koreksi tajam yang kemudian diikuti pemulihan dalam waktu singkat.
Persepsi pasar terhadap perak juga mulai berubah. Logam tersebut semakin dipandang sebagai komoditas yang sensitif terhadap perkembangan sektor industri, sehingga perubahan aktivitas ekonomi dapat memengaruhi permintaannya.
HSBC menyebut permintaan perak untuk kebutuhan industri dan perhiasan sedang mengalami pelemahan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membayangi prospek harga perak ke depan.
Bank tersebut memperkirakan harga rata-rata perak pada 2027 berada di kisaran US$ 64 per ons. Angka itu lebih rendah dibandingkan proyeksi rata-rata harga pada tahun ini yang mencapai US$ 71 per ons.
Perkembangan harga global tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar, terutama setelah harga perak Antam mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut.









