— Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali meningkat. Hingga Jumat (18/9/2026) malam, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence tercatat mencapai 546 titik secara nasional, bertambah dari 475 titik pada hari sebelumnya.

Kenaikan paling mencolok terjadi di Kalimantan Tengah yang kini menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas. Di sisi lain, Sumatra Selatan mengalami penurunan cukup besar. Data tersebut menjadi salah satu acuan pemerintah dalam menentukan wilayah yang membutuhkan patroli, pemeriksaan lapangan hingga penanganan kebakaran.

Kalimantan Tengah Catat Lonjakan Hotspot

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, jumlah hotspot high confidence di Kalimantan Tengah meningkat dari 61 titik menjadi 166 titik hingga pukul 21.05 WIB.

Sementara itu, Sumatra Selatan mengalami penurunan dari 184 menjadi 100 titik. Kalimantan Barat justru naik dari 30 menjadi 39 titik, sedangkan Kalimantan Selatan bertambah dari 5 menjadi 12 titik.

Di Jambi, jumlah hotspot turun dari 15 menjadi 9 titik. Adapun Riau yang sehari sebelumnya tidak mencatat hotspot, pada 18 September memiliki 4 titik.

Perubahan jumlah hotspot tersebut menjadi dasar untuk menentukan prioritas patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan di sejumlah lokasi.

Hotspot Perlu Diverifikasi di Lapangan

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit. Data tersebut tidak secara langsung menunjukkan satu kejadian kebakaran atau menggambarkan luas lahan yang terbakar.

Satu kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik panas. Karena itu, temuan dari pemantauan satelit tetap harus diperiksa melalui kondisi aktual di lapangan.

Penanganan dilakukan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta pihak terkait. Operasi meliputi patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan, dan pendinginan.

Sebanyak 55 unit armada udara juga dikerahkan di Sumatra dan Kalimantan, terdiri atas helikopter patroli, pesawat CASA untuk Operasi Modifikasi Cuaca, dan helikopter water bombing.

Cuaca dan Kualitas Udara Masih Dipantau

BMKG memprakirakan hujan sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi pada 19 September di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Operasi Modifikasi Cuaca tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi meteorologis, terutama untuk membantu pembasahan lahan gambut.

Sementara itu, kualitas udara berdasarkan pantauan PM2,5 masih bervariasi. Sejumlah wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi terdapat area di Sumatra dan Kalimantan dengan kondisi tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan berbahaya.

Pantauan BMKG pada Kamis (18/9) siang mencatat jarak pandang sekitar 5 kilometer dan berasap di Pontianak. Palangka Raya, Banjarmasin, dan Palembang memiliki jarak pandang 10 kilometer atau lebih, sedangkan Jambi sekitar 9 kilometer dan Pekanbaru sekitar 8 kilometer.

Masyarakat diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika udara memburuk, aktivitas luar ruangan perlu dikurangi dan masker digunakan saat berada di luar.

Masyarakat serta pelaku usaha juga diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar terdampak diminta segera melapor kepada petugas.