Topik.id — Indeks Harga Saham Gabungan sukses mencatatkan penguatan pada perdagangan hari Kamis, meskipun pasar dihantui oleh sentimen global negatif menyusul langkah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang menaikkan suku bunga acuan.
Merujuk data Refinitiv, penutupan sesi kedua memperlihatkan IHSG menanjak 0,40% atau bertambah 25,58 poin menuju posisi 6.462,43. Sepanjang hari, pergerakan indeks sempat menyentuh titik terendah di 6.418 hingga level tertinggi pada angka 6.500.
Aktivitas perdagangan mencatat ada 384 saham yang bergerak hijau, 244 saham terkoreksi, serta 164 saham stagnan. Total transaksi menyentuh angka Rp 13,92 triliun dengan volume mencapai 28,52 miliar saham dari 1,86 juta kali frekuensi perpindahan tangan.
Sebagian besar sektor industri berhasil mendarat di zona hijau, dipimpin oleh sektor konsumer, energi, dan teknologi sebagai penopang utama kenaikan. Sebaliknya, pelemahan dialami oleh sektor kesehatan, properti, utilitas, serta barang baku.
Sejumlah emiten secara spesifik turut memberikan sokongan bagi performa indeks hari ini, di antaranya meliputi BMRI, DSSA, DCII, BYAN, serta VKTR.
Pergerakan positif ini menjadi pembalik arah setelah sehari sebelumnya, yakni pada perdagangan Rabu, indeks melemah 0,38%. Pada awal sesi hari itu, IHSG sejatinya sempat melesat lebih dari 1% sebelum akhirnya tergelincir ke zona merah hingga penutupan.
Bursa domestik sendiri sempat diproyeksikan menghadapi tekanan berat. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga berada di kisaran 3,75%-4% menjadi faktor utama yang membayangi pasar keuangan dalam negeri, beriringan dengan melambungnya dolar AS dan imbal hasil US Treasury.
Langkah pengetatan moneter tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan The Fed sejak Juli 2023, disertai sinyal potensi lanjutan hingga penghujung tahun. Dari 18 pejabat bank sentral tersebut, 16 orang mengisyaratkan peluang setidaknya satu kali kenaikan lanjutan sebesar 25 bps akibat kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten.
Dampak kebijakan itu langsung mendongkrak indeks dolar AS ke level 100,252, yang merupakan posisi tertinggi sejak 12 Agustus. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun menembus level 5,004% atau tertinggi sejak Juli 2007.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran potensi arus modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset berdenominasi dolar AS, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Tekanan eksternal kian berlapis dengan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai sejumlah titik strategis dan pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
Potensi gangguan pasokan minyak dari jalur tersebut dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga energi serta mendongkrak risiko inflasi global, yang pada akhirnya memberikan beban tambahan bagi negara pengimpor seperti Indonesia.
Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter AS turut diwarnai tekanan dari Presiden Donald Trump yang mendesak pemangkasan suku bunga secara agresif hingga mencapai 1% atau lebih rendah demi menjaga pertumbuhan ekonomi.
Dari kancah domestik, para pelaku pasar turut memantau sejumlah agenda penting, termasuk rencana penerapan pemungutan PPh bagi pedagang online di marketplace mulai 1 Oktober serta langkah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan terhadap emiten pasar modal.
Sementara itu, agenda global menanti rilis data klaim pengangguran AS, inflasi final Zona Euro periode Agustus, serta keputusan suku bunga dari Bank of England yang akan menjadi panduan lanjutan bagi arah perekonomian dunia.
