— Mata uang Garuda harus rela mengakhiri perdagangan di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan yang mendera rupiah ini terjadi menyusul langkah bank sentral AS yang resmi menaikkan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data Refinitiv pada Kamis (17/9/2026), rupiah tercatat melemah sebesar 0,34% dan ditutup pada level Rp17.735/US$.

Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak bel pembukaan perdagangan dibunyikan. Mata uang dalam negeri langsung dibuka melemah 0,17% di posisi Rp17.705/US$, yang sebelumnya sempat berada di level penutupan Rp17.675/US$.

Tekanan berlanjut hingga sempat menyentuh level terlemah hari ini di kisaran Rp17.765/US$. Kendati demikian, menjelang bel penutupan pasar, rupiah berhasil memangkas sebagian koreksinya dan parkir di level akhir.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang berfungsi mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,09% ke posisi 100,157 pada pukul 15.00 WIB. Meskipun mengalami koreksi, indeks tersebut masih bertahan kokoh di atas level 100 menyusul lonjakan 0,64% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Faktor Pendorong dari Kebijakan The Fed

Pelemahan nilai tukar rupiah ini tidak terlepas dari posisi dolar AS di pasar global yang tetap perkasa pasca-pengumuman kebijakan terbaru dari The Federal Reserve atau The Fed.

The Fed secara resmi menaikkan tingkat suku bunga sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%-4,00%. Tidak hanya itu, bank sentral Paman Sam tersebut juga memberikan sinyal bahwa peluang penambahan satu kali kenaikan suku bunga masih terbuka hingga penghujung tahun ini.

Keputusan tersebut dirilis usai The Fed merampungkan rangkaian pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari, yang diumumkan pada Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari WIB.

Langkah pengetatan ini menandai kenaikan suku bunga pertama kalinya sejak Juli 2023 atau setelah vakum selama lebih dari tiga tahun. Keputusan itu sendiri diambil secara bulat lewat perolehan suara 12-0 dari seluruh anggota FOMC.

“Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat,” tulis pihak The Fed melalui keterangan resminya.

Berdasarkan catatan, tingkat inflasi AS pada Agustus 2026 berada di level 3,4% secara tahunan atau year-on-year (yoy), yang artinya masih berada di atas target ideal bank sentral.

Dalam sesi konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral tetap berpusat pada stabilitas harga. Menurutnya, inflasi saat ini masih terlampau tinggi dan berlangsung dalam durasi yang cukup lama.

“Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi,” ujar Warsh, seperti dikutip dari CNBC International.

Proyeksi dan Langkah Antisipasi

Kenaikan suku bunga serta sinyal pengetatan lanjutan ini menjaga tingkat daya tarik instrumen investasi berdenominasi dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, terus berlanjut.

Menanggapi situasi tersebut, Rully Arya Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia berpandangan bahwa Bank Indonesia (BI) masih memiliki sejumlah instrumen moneter guna mempertahankan stabilitas nilai tukar.

“Respons BI bergantung pergerakan rupiah: intervensi valas dan SRBI lini pertama, rate hike pilihan terakhir,” tulis Rully dalam laporan Macro Tracker yang dirilis pada Kamis (17/9/2026).

Rully memperkirakan bahwa Bank Indonesia kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan pada 22-23 September mendatang. Meski demikian, potensi pergerakan rupiah menuju rentang Rp17.850-Rp17.900/US$ dapat menjadi ujian tersendiri bagi BI untuk kembali mengandalkan instrumen SRBI atau bahkan mengerek suku bunga hingga menyentuh level 6,00%.